Ada Apa dengan AADC?


Oleh Kholda Naajiyah

Indonesia kembali dilanda demam AADC alias Ada Apa Dengan Cinta. Ya, bagi pembaca yang melewatkan masa remaja di era awal 2000-an, pasti sangat familiar dengan film AADC yang dirilis 2002 lalu. Dampaknya pun sangat membekas, bahkan hingga hari ini, saat penonton di era 2002 itu kebanyakan kini sudah tak remaja lagi. Sudah ibu-ibu dan bapak-bapak, beserta anak-anaknya.
Demam AADC jilid 2 ini melanda ketika layanan chatting Line membuat mini drama AADC yang seolah sekuel dari kisah tokoh utamanya Rangga (Nicholas Saputra) dan Cinta (Dian Sastro). Sontak para ibu dan bapak-bapak muda ini pada heboh. Terlebih di dunia maya, netizen (sebutan untuk pengguna internet) begitu antusias membincangkan segala hal tentang tayangan berdurasi 10 menit tersebut.
Saking kuatnya efek tayangan tersebut, beberapa dialog dalam film ini masih menjadi bahan obrolan. Bahkan juga memunculkan candaan sehari-hari atau pelesetan-pelesetan (meme) yang lucu-lucu. Pesona Rangga dan Cinta yang begitu sempurna kembali menjadi sorotan. Citra laki-laki ideal digambarkan pada diri Rangga yang sukses berkarir di Amerika Serikat, cool dan puitis. Cinta pun tak kalah sukses, berkarir mapan, tetap ceria dan dikelilingi sahabat-sahabat karibnya.
Line tampaknya sukses mengharu biru para penggemar AADC akan sebuah kenangan 'indah' di masa lalu dan mengajak bernostalgia. Ya, minidrama ini dibuat untuk mempromosikan salah satu layanan Line, yakni Find Alumni. Dengan fitur tersebut, urusan nostalgia, romantika masa lalu dan reuni-reunian dengan teman-teman lama semakin terfasilitasi.

EFEK NEGATIF
"Waktu tidak pernah berjalan mundur dan hari tidak pernah berulang. Tetapi, pagi selalu menawarkan cerita yang baru," suara Cinta terdengar di penghujung kisah mini drama itu. "Untuk semua pertanyaan, yang belum sempat terjawab," jawab Rangga tak kalah puitis. Demikianlah, dialog-dialog yang memikat dalam sebuah film, kerap menyihir para penikmatnya ke dalam filosofi dan pemahaman hidup tertentu. Sangat smooth, menyerap bak spon menghisap butiran air.
Saat dirilis 12 tahun lalu, AADC sukses luar biasa, bahkan 2-3 kali lebih besar dari yang diperkirakan. Hal itu diungkapkan Mira Lesmana, sang produser. Menurut Mira efek positif film tersebut berupa diliriknya buku dan dunia sastra oleh remaja, sebagaimana karakter tokoh utamanya Rangga dan Cinta yang menggemari puisi dan sastra (Perspektif Edisi 327,18/6/02).
Namun, efek negatifnya juga luar biasa. Seperti adanya adegan ciuman dalam film tersebut, menjadi promosi akan gaya hidup liberal. Waktu itu, sempat menjadi perbincangan pro-kontra karena adegan mesum itu dinilai tidak sesuai dengan budaya ketimuran. Apalagi dilakukan pelajar berseragam, sangat tidak patut ditiru.
Mira sebenarnya sadar, film punya dampak yang besar. “Karena itu, dari awal biar penontonnya sedikit pun, ada tanggung jawab untuk selalu punya sensor sendiri,” katanya (sumber, idem). Ironisnya, adegan kissing bukan bagian yang disensor itu. Bahkan, itu termasuk yang membekas di kalangan penontonnya.
Sejak itu hingga kini, sudah menjadi keniscayaan, film-film bergenre apapun tak pernah absen dari adegan mesum. Buka aurat, kissing hingga percintaan. Efeknya luar biasa. Pada akhirnya perlahan tapi pasti, adegan mesum di film pun diusung di kehidupan nyata.
Ciuman di kalangan remaja sudah bukan barang tabu lagi. Kita menyaksikan gaya remaja saat ini yang sudah demikian dekat dengan aktivitas syahwat. Jangankan ciuman, berzina pun dilakukan. Bukan sekadar akting, bahkan mereka tak malu memvideokan aksinya. Na'uzubillahi minzalik.
Tanpa menuduh AADC sebagai penyebabnya, namun kita tidak bisa menutup mata bahwa AADC adalah lokomotif penarik gerbong bangkitnya perfilman Indonesia yang saat itu mati suri. AADC efek tampaknya terus bekerja.
Terbukti, miniseri AADC juga sukses membangkitkan romantisme para penggemarnya. Line melalui AADC kembali menggiring pemahaman tentang indahnya pacaran di masa remaja. Generasi AADC yang hidup di masa kini, yang notabene tumbuh dewasa bersama AADC, pada akhirnya adalah follower gaya hidup pacaran. Kelak anak-anak mereka juga akan 'dididik' sebagai generasi pacaran. Maka jangan heran jika tips pacaran pun sampai-sampai dimasukkan dalam kurikulum pelajaran.

GENERASI CLBK
Generasi AADC ini juga menjadi penggemar ajang-ajang reunian. Apalagi media sosial dan layanan chatting sangat memungkinkan. Ya, dengan sarana teknologi yang ada saat ini, bukan perkara sulit untuk menemukan kembali teman lama. Hampir semua ibu-ibu dan bapak-bapak usia 30-40 tahunan memiliki akun di berbagai jejaring sosial.
Terhubunglah mereka dengan para alumni: teman SMP, SMA, kuliah, teman kos, teman kerja di tempat lama, relasi yang sudah lama tidak bertemu dan seterusnya. Setelah bertemu di dunia maya, mengalirlah kembali kenangan masa-masa lalu itu. Lalu, diteruskan dengan indahnya reuni di masa (setengah) tua itu, bahkan jika perlu kopi darat.
Di sinilah bahaya mengancam. Jika tidak menyikapinya dengan pondasi Islam, bisa-bisa melenakan. Pasalnya, biasa mengobrol dan bernostalgia bersama tentang masa lalu, berpotensi memunculkan bibit-bibit asmara. Seperti CLBK (cinta lama bersemi kembali), TTM (teman tapi mesra) dan bahkan perselingkuhan. Terlebih, konon pada usia-usia tersebut terjadi yang namanya masa-masa pubertas jilid II. Lelaki sangat mudah tergoda perempuan lain, demikian pula sebaliknya.
Sudah banyak kasus terjadi, konflik rumah tangga yang bahkan berujung perceraian terjadi gara-gara suami atau istri selingkuh dengan teman lamanya melalui jejaring sosial. Alasan untuk menjalin silaturahmi dengan teman lama, mungkin sah-sah saja. Namun ketika jalinan silaturahmi itu justru dipintal secara intim dan intens dengan lawan jenis, apalagi berstatus mantan pacar, reuni adalah pilihan menyesatkan.

PUTUS ROMANTISME
Sungguh, kita tidak ingin ibu-ibu dan bapak-bapak hari ini menjadi teladan buruk bagi putra-putrinya karena asyik masyuk dengan AADC. Seperti melumrahkan pacaran dan reuni-reunian yang kian menjamur sebagai bagian dari gaya hidup liberal. Untuk itu, orangtua, kaum ibu dan bapak, harus berani memutuskan hubungan romantismenya dengan AADC. Dengan demikian kelak mereka mampu menjadikan Islam saja sebagai teladan. Mendidik generasi dengan nilai-nilai Islam yang bertentangan dengan gaya hidup yang ditawarkan ala AADC.(*)

* Tulisan ini dipublikasikan di Tabloid Media Umat Edisi 139
Meme AADC yang ramai jadi perbincangan. Pict by Google.


Profesor Kok Ngedrugs?


Oleh Asri Supatmiati

 

Celaka 12! Guru besar Universitas Hasanudin (Unhas) Makassar, Prof DR Musakkir SH. MH dan seorang dosen Ismail Alrip SH, M.KN ditangkap saat pesta sabu bareng mahasiswinya, Nilam, di Hotel Grand Malibu, Jumat (14/11/2014) dinihari. Polisi menyita dua paket sabu lengkap dengan alat hisapnya.
Di hotel yang sama, di kamar lain, ditemukan Andi Syamsuddin alias Ancu (44), warga BTN Ara Keke, Kabupaten Bantaeng bersama mahasiswi Ainum Nakiyah (18), warga Jalan Pelita, Makassar. Di sini disita sabu seberat 1 gram, 2 butir ekstasi dan alat penghisap sabu (bong). Nah, dari pengakuan Ancu, barang haram itu didapat dari teman di kamar 205.
Ditangkaplah Harianto alias Ito (32), staf Zona Cafe, warga Jalan Kapasa Raya, Daya. Di dalam kamar itu, polisi menyita satu paket sabu sisa pakai. Total dari tiga kamar tempat pesta sabu ditangkap enam orang (www.kompas.com,14/11/2014)
Hampir bersamaan, Badan Narkotika Nasional (BNN) menangkap dua artis VM dan K, di diskotek Domain, Senayan City, Jakarta. VM diduga Vicky Monica, pendatang baru kelahiran Duri, Riau, 17 April 1990, pernah main di Ganteng-Ganteng Srigala, film Mengejar Malam Pertama dan Pupus. Sedangkan inisial K disinyalir Kevin Kambey, model, bintang iklan, pesinetron dan pemain film yang sedang naik daun (www.tempo.co.id, 17/11/14).
Berita itu cukup menghebohkan di tengah isu BBM. Gimana nggak, sebelumnya kita udah dikejutkan dengan tertangkapnya pelawak senior Kabul Basuki alias Tessy juga karena drugs. Duh, kayaknya generasi muda ampe tua kompak ya, doyan nge-fly. Buktinya, BNN merilis, 500.000 warga Jakarta jadi pengguna narkoba. Itu artinya sekitar 7 persen dari total 7 juta penduduk Jakarta (www.tempo.co.id, 30/10/14).
Itu baru di Jakarta. Juga, baru yang kedata. Belum yang nggak terungkap dan di kota-kota besar lainnya. Macam kasus di Makassar itu. Bayangin, hanya satu malam, di satu hotel aja, ditemukan enam pengguna narkoba. Kalau begitu angka sesungguhnya pasti ibarat fenomena gunung es: ketahuan pucuknya doang dan jumlah sebenarnya jauh berlipat.

Salahkan Pendidikan
Khusus kasus Profesor, ini jelas tamparan keras buat dunia kampus khususnya dan dunia pendidikan umumnya. Yup, kalo artis kena narkoba, emang dunia mereka image-nya udah buruk. Pesta, dunia malam dan gaya hidup bebas lekat dengan mereka. Banyak duit, punya jaringan, tergodalah belanja barang haram. Apalagi tingkat stres karena persaingan cukup tinggi, akhirnya narkoba jadi pelarian.
Lah kalo profesor yang melakukannya? Alamak! Sungguh memalukan! Gelar tertinggi dengan sederat titel nggak ngasih teladan kebaikan sama sekali, malah berperilaku maksiat. Ngajak-ngajak mahasiswinya lagi. Gimana berharap mahasiswa jadi generasi terbaik jika profil pendidiknya aja cacat moral.
Bisa jadi, ini karena banyak banget para pendidik bergelar akademik bergengsi itu jebolan dari luar negeri sono. Lulusan dari kampus-kampus di negara-negara sekuler, khususnya Barat, udah pasti sedikit banyak terpapar gaya hidup liberal.
Tak sedikit dari mereka yang bahkan menjadi corong dari peradaban rusak Barat, paradigma nyeleneh, pemikiran asing dan filosofi sekuler yang sangat bertentangan dengan Islam. Pola pikir mereka banyak yang udah kebarat-baratan, seperti toleransi yang salah kaprah, penggiat pluralisme, dialog antaragama, pembela liberalisme dan bahkan penentang Islam.
Lagian, tak sedikit profil pendidik saat ini yang mampu meraih titel akademik tinggi di usia relatif muda. Begitu lulus S1, langsung lanjut S2 dan seterusnya hingga bisa meraih gelar profesor, doktor atau master dalam usia 30-an tahun. Dari sisi akademik, kecerdasan dan ilmu, mungkin mumpuni. Tapi dari sisi kematangan kepribadian sebagai pendidik, termasuk kematangan moral, nah, ini yang jadi persoalan.
Mereka –dan kita-- adalah bagian dari output sistem pendidikan Indonesia yang sangat sekuler, jauh dari nilai-nilai agama yang seharusnya menjadi way of life. Tak pernah mendapatkan porsi terbaik dalam pendidikan agama. Selama menikmati bangku sekolah bahkan hingga kuliah, pondasi keimanan dan kepribadian Islam para pelajar sangat rapuh. Dan ternyata, itu terbawa sampai profesor. Godaan duniawi pun menyeret pada perilaku tak wajar dan bahkan berujung nista.
Ini tentu beda kalo sejak dini Islam yang dijadikan dasar dalam membangun sistem pendidikan. Mulai di rumah, lingkungan, sekolah, kampus hingga di masyarakat. Anak didik sejak dini mustinya ditanamkan pemahaman tentang Islam sebagai ideologi alias way of life yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Bahwa drugs itu haram, yakin, profesor juga pasti mafhum. Masalahnya, karena Islam nggak diterapkan dalam tatanan sistem, melainkan sistem sekuler yang bercokol, akhirnya gaya hidup permosif itu yang mendominasi. Padahal, jika profesor –juga umat muslim umumnya-- mengkaji Islam secara ideologis, percaya deh, dengan kekuatan ideologi Islam itu, drugs bakal gagal menggoda iman.

Pasti Terungkap
D'riser, jangan ditiru ya ulah profesor nakal itu. Namanya drugs seberapapun dan jenis apapun udah pasti bawa mudharat. Nggak usah tergoda! Lagian, dalam dunia kriminal, para kriminolog (pakar kriminal) itu punya motto “setiap kejahatan pasti terungkap.” Artinya, nggak bakal ada kejahatan di dunia ini yang bakal tertutup rapat.
Kalau kamu berbuat jahat, bermaksiat, mesum atau berperilaku amoral, cepat atau lambat suatu saat pasti terungkap. Hanya soal waktu. Persis dengan pepatah sepandai-pandai menyembunyikan bangkai, baunya bakal kecium juga. So, mau berbut tuh mikir!
Nggah usah coba-coba berbuat aneh-aneh deh. Yang lurus-lurus aja. Yang pasti-pasti aja, yang halal dan dibolehkan Islam. Pikir dulu sebelum berbuat dengan standar Islam, halal dan haram. Cuma itu satu-satunya benteng pertahanan terkuat, terbaik dan terhebat dari serangan budaya hidup maksiat. So, belajar Islam yang bener, serius dan kafah. Jangan ber-Islam setengah-setengah. Apalagi cuma Islam KTP. Eh...Islam di KTP pun bakal dihilangkan, ya? Runyam deh!(*)

* Tulisan ini tayang di Majalah Remaja D'Rise 


Peran Ideal Ayah


Oleh Kholda Naajiyah

Pekan-pekan ini ayah masih terus menjadi perbincangan. Tak seperti tahun-tahun sebelumnya yang sepi dari pengingat, 12 November yang ditahbiskan sebagai Hari Ayah Nasional, kali ini mendapat respons antusias. Diskusi tentang peran ideal ayah pun kembali menghangat. Apa saja? Mungkin panduan berikut bisa menjadi inspirasi:

Eksternal
Posisi ayah dalam aktivitasnya di publik, idealnya menjalani karakter sebagai berikut:
1 Pekerja
Penuh rasa tanggungjawab, berani memikul beban utama sumber nafkah keluarga. Untuk itu, harus bekerja keras dan cerdas, tak kenal lelah untuk menjadi tulang punggung keluarga. Harus gigih dan sungguh-sungguh mengupayakan kecukupan akan kebutuhan anak-istri, bahkan jika perlu lebih. Punya visi dan misi jauh ke depan terkait sumber nafkah, seiring dengan meningkatnya kebutuhan hidup dengan semakin bertambahnya (usia) anak-anak.
2 Produktif
Jadilah ayah yang produktif dengan kegiatan positif. Manfaatkan setiap detik waktu semaksimal mungkin. Waktu sangat berharga. Jangan segan meluangkan waktu, tenaga, pikiran dan bahkan dana untuk berkontribusi bagi masyarakat. Menjadi relawan dalam kegiatan di lingkungan rumah, tak gengsi bekerja bakti membereskan lingkungan, tak abai terhadap aktivitas sosial dan tak pelit membantu mereka yang membutuhkan uluran tangan.
3 Aktivis
Ambil peran untuk menjadi orang yang paling bermanfaat bagi orang lain dengan menjadi dai yang jempolan. Pantang menolak amanah. Tak ada kata tak bisa. Berkontribusi maksimal melalui tenaga, gagasan maupun dana. Kesibukan mencari nafkah jangan jadikan kendala, tapi peluang.

Internal
Posisi ayah dalam aktivitasnya di ruang privat, idealnya menunjukkan karakter sebagai berikut:
1 Pendidik
Ayah harus tampil cerdas, smart dan luas wawasannya sebagai bekal mendidik anak-anak dan istri. Sepintar apapun istri, tetap butuh nasihat suami. Sepintar apapun anak-anak, ayah jangan kalah. Ilmu dan teknologi terus berkembang pesat, ayah harus mengimbanginya. Jangan pula bebaskan tangan ayah dari sentuhan mendidik anak. Jangan serahkan semua pada istri. Ayah yang abai terhadap pendidikan anak pasti tidak akan dekat-melekat secara emosional dengan anak-anaknya.

2 Pelindung
Ayah adalah pengayom bagi anggota keluarga. Namanya melindungi, tentunya tak pernah menyakiti, baik lisan maupun fisik. Ayah harus bersifat kasih sayang dan lembut pada keluarganya. “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-Iembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.“ [TQS: 2: 159]
Seorang ayah tidak boleh bersikap kasar dan mengedepankan kasih sayang dalam menghadapi perilaku anak-anaknya. Jangan sampai kekerasan membuat anak-anak kabur dari rumah.

3 Hakim
Ayah adalah kepala rumah tangga. Ia seharusnya menjadi pemutus perkara terhadap permasalahan rumah tangga. Untuk itu ayah harus tegas, berwibawa, bijaksana dan adil. Tegas, berarti tidak plin-plan, mudah galau, bingung atau serba “terserah”. Berwibawa bermakna memancarkan kharisma agar disegani penghuni rumah, tapi bukan ditakuti. Bijaksana, artinya mengambil keputusan dengan pertimbangan matang dan rasional, tanpa merugikan salah satu pihak. Sedangkan adil, menempatkan sesuatu pada posisi dan porsinya. Saat istri bimbang dengan suatu masalah, ayah segera ambil alih. Saat anak bertengkar, ayah tegas melerai tanpa membanding-bandingkan atau membeda-bedakan.

4 Sahabat
Menjalin persahabatan dengan istri, berarti jadi tempat curhat utama, pendengar yang sabar dan penasihat yang bijak. Menjadi sahabat anak berarti memahami karakter anak, menyelami dunia mereka dan buka mata dengan kebutuhan anak-anak sesuai usia dan tahap perkembangannya. Tidak boleh karena alasan mencari nafkah, ayah kehilangan waktu untuk bercengkerama dengan anggota keluarganya. Sahabat Abu Darda ra pernah ditegur oleh Salman al-Farisi ra, karena terlalu mementingkan ibadah sehingga mengabaikan hak-hak istrinya untuk bermesraan dan hak anak untuk bercanda.

Demikianlah, semoga para ayah diberi kekuatan untuk dapat menjalankan tugas sesuai yang diamanahkah Allah SWT kepada-Nya, sehingga kelak mampu mengumpulkan seluruh anggota keluarganya dalam rumah idaman, surga. Aamiin.(kholda)

Abyan M Aqilla dan abinya di Pantai Ancol.


Cari Inspirasi dari Artis

* Seri Catatan Harian Bunda


Indonesia pasti kenal yang namanya Pegy Melati Sukma. Artis multitalenta yang ngetop di era 90-an itu kini sudah menjadi daiyah. Saya berkesempatan menghadiri ceramahnya saat dia datang ke Bogor, Sabtu (18/10/2014) lalu.

Acara di Masjid Balaikota Bogor itu bertajuk Inspirasi Keliling Negeri yang diadakan oleh komunitas Akhwat Bergerak dan Aksi Cepat Tanggap (ACT). Selain ceramah Mbak Pegy (enaknya pakai Mbak nggak ya, kalau nulis berita biasa sebut nama doang hehe...), juga penggalangan dana untuk membantu muslim Gaza-Palestina.

Mbak Pegy bersama timnya sedang keliling Indonesia. Setahun targetnya 50 kota. Masya Allah, modal 'mantan artis' dengan nama tenar memang jaminan ya, langsung punya jam terbang tinggi meski sudah alih profesi (eh, dakwah bukan profesi ya, aktivitas maksudnya).

Bogor kota ke 16 yang didatanginya. Saya tahu acara itu dari twitter. Kenapa saya tertarik datang? Emangnya (dulu) fans-nya Mbak Pegy? Saya memang punya gambar Pegy di rumah, berupa stiker yang menempel di mesin cuci merek Denpoo. Tapi itu dulu, sekarang si Denpoo sudah pensiun. Jadi, bukan itu alasannya hehe...

Begini ceritanya. Sebenarnya hari itu saya ada pilihan acara lain, yakni Halaqoh Islam dan Peradaban (HIP) di PPIB Masjid Raya, Bogor. Namun, karena saya juga ada acara di Majelis Taklim Qurota Ayun tak jauh dari rumah jam 11 siang, saya tidak jadi ke HIP. 

Pertimbangannya, dari Masjid Balaikota saya bisa lebih cepat sampai MT Qurota Ayun dibanding dari lokasi HIP. Alasan lain lagi, dari Balaikota saya bisa menyeberang sebentar ke depan Istana Bogor untuk menyenangkan anak-anak –tiga bocil ikut semua-- sekadar memberi makan rusa. Sekadar menghilangkan kepenatan anak-anak setelah sepekan sekolah dan hanya di rumah saja.

Alasan lain, saya punya “misi” ingin berkenalan dan berbincang dengan Mbak Pegy. Sebab, dulu pernah ada yang menelepon saya meminta untuk menjadi kontributor sebuah majalah Islam yang  akan diakuisisi Mbak Pegy, tapi terus tidak ada kelanjutannya.

Nah, saya ingin memanfaatkan moment itu untuk memberikan dua buah buku saya "The True Hijab" (antologi bersama teman-teman di grup Belajar Nulis, Mozaik, 2013) dan "Warna-warni Muslimah" (karya Kholda Naajiyah, Al-Azhar Press, 2014). Niatnya, supaya Mbak Pegy sempat membaca dan menambah perspektifnya tentang Islam.

Akhirnya, sampai di masjid Balaikota. Saya membayangkan masjid akan penuh karena pembicaranya mantan artis terkenal. Ternyata tidak. Jamaah yang hadir tak sampai separuh masjid. Bahkan kelewat sedikit. Mbak Pegy pun sempat berujar: “Jamaah di Bogor yang datang ini pilihan ya, sudah diseleksi oleh Allah, biasanya di kota lain bisa sampai 500 orang,” katanya.

Nah, saat baru duduk di masjid, saya mendapat SMS dari seorang ustazah, tidak perlu ke MT Qurota Ayun. Alhamdulillah, berarti saya punya waktu cukup untuk mengikuti acara ini sampai selesai. Sungguh kemudahan dari Allah SWT untuk memperlancar misi saya.

Ditambah lagi, dengan jumlah audiens yang tidak banyak, membuat suasana terasa nyaman. Anak-anak masih bisa bebas mengekplorasi diri tanpa mengganggu jamaah lain. Suasana sungguh adem, sampai si bocil tidur semua. Jadi saya bisa menyimak acara dengan baik.

Saya ingin menyerap teknik retorika pembicara, selain ingin tahu juga dengan konten yang disampaikan. Awalnya saya pikir hanya akan bercerita tentang kisah 'hijrah'-nya Mba Pegy sampai bisa fokus ke dakwah. Ternyata ada banyak juga inspirasi yang saya dapat.

Nah, untuk yang penasaran dengan kisah Mbak Pegy, saya ceritakan sedikit ya (yang banyak ada di bukunya, tapi saya juga tidak beli hehe...). Ini ringkasnya yang saya ingat saja.

Pegy bercerita, mengawali karir artis saat usia 14 tahun. Selama 10 tahun kemudian, dia baru punya kesempatan go international, dalam arti bisa tampil di luar negeri. Seperti di Amerika, Rusia, dll. Total menjadi artis selama 23 tahun. Selama itu, ia sangat sulit tergerak untuk sekadar umrah ke tanah suci. “Bahkan sampai teman dari travel ngasih diskonpun, saya tidak berangkat karena agenda yang sangat padat,” kata artis multitalenta itu.

Ya, selain pemain sinetron, ia juga main teater, model catwalk, presenter, syuting iklan, dll. Penghasilannya, jangan ditanya. Miliaran. Uang bukan masalah. Namun, suatu titik, ia mendapat ujian bertubi-tubi. Mulai ujian berupa suami, kerabat atau teman dekat yang mengkhianatinya, perusahaannya --tempat ia menginvestasikan uangnya-- bangkrut, hingga penyakit berat yang membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa. “Muka saya ini sudah penuh suntikan di mana-mana. Semua ujian itu bersamaan, tidak silih berganti. Dua setengah tahun lamanya ujian itu,” ujarnya.

Itulah titik balik yang membuatnya 'hijrah'. Sampai awal tahun 2014 ini, ia pun bertekad mengabdikan diri untuk dakwah. Ia lalu dikenal sebagai inspirator hijrah. “Saat itu tawaran sinetron dan dunia artis lainnya masih banyak, tapi saya uji diri saya, bisa nggak saya menolaknya,” kata Pegy.

April lalu, dia sama sekali sudah tidak mau main sinetron. Sejak itu, ia merasakan banyak keajaiban dari Allah SWT. “Saya jadi artis butuh 10 tahun baru bisa tampil di luar negeri, dakwah, baru enam bulan sudah diundang ke Amerika, Hongkong,” katanya.

Karena itu, ia mengajak audiens untuk tidak ragu berhijrah. “Kalau mau hijrah, segera realisasikan, Allah pasti sudah menyiapkan jalan lainnya sebagai solusi,” kata Pegy menjawab pertanyaan seorang akhwat yang ingin keluar dari pekerjaannya sebagai pegawai di bank konvensional.

Lalu Pegy juga mengajak audiens bersedekah untuk membantu warga Gaza. Luar biasa, hanya sebentar dapat Rp10 juta dari audiens. Menurutnya, tabungan yang hakiki itu ya sedekah, karena itu tabungan untuk kehidupan di akhirat. “Siapa bilang kita itu mati, yang mati kan jasadnya saja, masih ada kehidupan sesudah dunia, kita nabungnya untuk akhirat, jangan nabung di bank,” ujarnya.

Nah, itulah sebagian isi ceramahnya. Habis itu, ada sesi pembagian doorprize. Wah, saya termasuk yang beruntung mendapat sebuah buku (sayangnya bukan buku Mbak Pegy hehe...ngarep.com). Saya “kehilangan” dua buku, eh, dapat satu buku penggantinya. Itulah rencana indah Allah SWT hari itu.(*)

Bogor, 28 Oktober 2014 
Mbak Pegy sedang memberi tausiyah di hadapan audiens, di Masjid Balaikota Bogor. Foto by Asri.





Pacaran Bikin Sakit


Oleh Asri Supatmiati

Pacaran sehat? Ngawur apa ngelindur tuh! Masak iya pacaran sampai dibahas di buku ajar segala? Di buku Pendidikan Kesehatan Jasmani kelas XI lagi. Emang pacaran itu salah satu cabang olahraga? Emang pacaran bisa bikin sehat jasmani dan rohani, gitu?
Di buku itu dijelaskan tentang pacaran sehat. Intinya, sehat fisik, berarti jangan ada kekerasan dalam pacaran. Sehat emosional, yakni hubungan terjalin dengan baik dan nyaman. Sehat sosial, artinya pacaran tidak mengikat, dimana hubungan dengan yang lain tetap terjaga. Sehat seksual berarti harus saling menjaga dengan tidak melakukan hal-hal yang berisiko.
Na’uzubillah min zalik. Ini buku pelajaran anak sekolah kok malah mengajarkan pacaran. Seumur-umur baru kali ini pacaran dijadikan kurikulum di bangku sekolah. Seolah pelajaran pacaran itu maha penting yang harus dipahami dan diaplikasikan para siswa.
Gaya Liberal
Pacaran adalah ciri khas gaya hidup bebas yang bersumber dari ideologi sekuler. Itu loh, ideologi yang memisahkan agama dari kehidupan. Dalam pandangan ideologi ini, manusia diciptakan dengan naluri seksual yang harus senantiasa dipuaskan. Pokoknya kalo syahwat itu muncul, kudu dilampiaskan sampai puas, karena kalo nggak bisa bikin koit. Begitu paham mereka.
Nah, pacaran menjadi salah satu pintu pemuasan naluri seksual itu. Gimana nggak, sepasang muda-mudi yang pacaran udah pasti aktivitasnya didominasi syahwat. Pandang-pandangan dengan perasaan deg-deg serr. Pegang-pegangan disertai rasa cenat-cenut kayak kesetrum. Berangkulan, berpelukan dan seterusnya (stt…nggak usah dibayangi apalagi dilakukan ya, bahaya kalau dilanjutkan).
Itulah fakta yang namanya pacaran. Hampir semua aktivis pacaran melakukan itu. Kalo nggak, namanya bukan pacaran dong. Mana puas cowok pacaran dengan cewek yang nggak bisa “diapa-apain”. Mana mau cewek pacaran sama cowok yang “nganggurin” dia.
Jadi, faktanya, pacaran itu selalu mengundang hadirnya syahwat. Bohong itu pacaran sehat. Selamanya pacaran itu nggak bisa dibikin sehat. Apalagi diajarkan di sekolah supaya bikin sehat. Masak aktivitas bahaya gitu dibilang sehat? Pacaran itu bukannya bikin sehat, justru bikin sakit. Jiwa raga. Lahir batin. Jasmani rohani. Dunia akhirat.
Memicu Penyakit
Pacaran nggak bakal bisa bikin sehat fisik. Faktanya, ada fenomena kekerasan dalam pacaran (KDP), baik kekerasan verbal maupun fisik. Pacar juga manusia, sering banget khilaf. Kalo udah emosi, kasarnya ketahuan. Kebun binatang keluar dari lisannya, ayunan tangannya juga ringan bak algojo yang tanpa beban mengeksekusi seorang pesakitan.
Konon, angka KDP ini ibarat fenomena gunung es, karena tidak banyak pacar yang merasa perlu melaporkan KDP pada pihak berwenang. Misalnya ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Komnas Perempuan, Komnas HAM atau polisi. Kenapa? Karena, kadang sang pacar punya rasa percaya diri yang sangat rendah. Merasa layak diperlakukan kasar oleh pasangannya, karena merasa tidak terlalu cantik, punya banyak kekurangan, dll. Duh! Sudah pacar kasar, masih juga dimaklumi!
Pacaran juga gak bakal bikin sehat seksual. Aktivitas pacaran itu sendiri penuh risiko. Pas pacaran, kalo dua-duanya saling “kesetrum”, trus nggak lanjut pada hubungan seksual, pasti bakal sakit hati. Bikin resah bin gelisah. Galau tingkat tinggi. Makanya, fakta membuktikan, banyak aktivis pacaran yang akhirnya berzina. Tanggung, kalau nggak sampai dipuaskan, sakitnya tuh di ubun-ubun. Gelisah tingkat tinggi.
Sebab, naluri seksual itu memang fitrahnya begitu. Kalau dia dibangkitkan dari ‘tidurnya’, menuntut pemuasan. Kalau nggak dipuaskan akan bikin hati nggak tenteram. Tapi, nggak bakal bikin mati sih, hanya gelisah saja. Itu fakta sebenarnya. Makanya, kalo nggak mau galau, ya jangan pacaran.
Pacaran juga nggak bikin sehat sosial. Udah pasti namanya pacar itu posesif. Nggak bakal bebas berinteraksi dengan yang lain karena terikat dengan sang pacar. Nanti dicemburui atau dianggap selingkuh. Nah, kalo udah ada KDP, nggak sehat seksual, nggak sehat sosial, gimana hubungan bisa sehat emosional? Mustahil.
Yang ada pacaran itu bikin sakit jiwa. Misalnya ketika terjadi pertengkaran hebat dengan sang pacar. Pasti keluar tuh cacian dan makian. Kadang mengungkit-ungkit segala hal yang udah diberikan pacar. Apalagi kalo kemudian putus dengan cara tidak baik. Sakitnya tuh di sini (nunjuk dada). Luka hati lama penyembuhannya. Banyak yang susah move on gara-gara diputus pacar. Bahkan ada yang sampai gila dan bunuh diri segala.
Lebih dari itu, pacaran juga memicu penyakit hati lainnya. Cewek kalo punya pacar, duh, bangganya selangit. Sok merasa cewek paling laku sedunia. Bibit-bibit sombong bin takabur tuh! Cowok juga begitu. Kalo sukses naklukin cewek, belagunya nggak ketulungan. Merasa cowok paling ganteng sedunia. Laku men! Dosa, kan takabur.
Makanya, jangan percaya namanya pacaran sehat. Apalagi bagi muslim, nggak ada istilah pacaran dalam Alquran dan Hadits. Haram hukumnya pacaran, karena dalam Islam nggak boleh kholwat (dua-duaan dengan lawan jenis yang bukan mahromnya). Yang pasti-pasti aja deh, kalo mau sehat, jangan pacaran!(*)
* Tulisan ini tayang di Majalah D'Rise

Ready Now...

Judul: Warna-warni Muslimah, 33 Suplemen Ideologis Menjawab Masalah Kekinian
Penulis: Kholda Naajiyah
Penyunting: M Iwan Januar
Penerbit: Al-Azhar Fresh Zone Publishing
Cetakan I: Agustus 2014
Tebal: 232 halaman
Harga: 43 ribu
Order: 08111157525
ISBN: 978-602-7986-22-0




Devisit Politisi Perempuan



Politikus muslimah yang berkualitas hanya akan lahir dari sistem Islam

Pesta demokrasi masih 2014. Tapi, partai-partai politik sudah sibuk gerilya mencari calon-calon kandidat unggulan. Termasuk yang sedang diburu adalah politisi perempuan. Kalau sekadar mengandalkan jenis kelamin, banyak perempuan yang rela jadi ¨kembang gula¨ parpol. Buktinya artis-artis perempuan pun jadi rebutan.

Masalahnya, sulit menemukan politisi perempuan berkualitas. Perempuan yang ambisius kekuasaan atau minimal melek politik. Ini dikeluhkan hampir semua parpol. Kuota 30 persen yang dulu ngotot diminta kaum perempuan, nyatanya tak berbanding lurus dengan upaya kaum hawa itu sendiri untuk melek politik.

Mulai di daerah hingga pusat, parpol mengaku sulit mencari sosok politikus perempuan. Wawasan politik para perempuan anggota dewan seperti di Bone, Pamekasan, Bengkulu, Bengkalis (Riau), Cilegon hingga Jakarta (anggota DPR RI), bahkan masih diragukan. Di antara alasan yang muncul karena mereka tidak siap berkarier di dunia politik.

ABSEN PEMBINAAN
Devisit perempuan yang melek politik, tak lepas dari melempemnya fungsi kaderisasi parpol. Meski jumlahnya semakin banyak, parpol-parpol itu mengalami disfungsi. Mereka hanya menggeliat menjelang perhelatan politik, seperti pilkada atau pemilu.

Tugas parpol berupa pembinaan dan pengkaderan hampir jalan di tempat. Para aktivis parpol hanya bergabung berdasar formulir dan daftar absen. Sementara proses pemahaman dan penularan filosofi politik tidak terjadi.

Terlebih saat ini, politik hanya identik dengan upaya meraih kekuasaan yang penuh intrik. Ini bukan dunia perempuan. Sejak lama, perempuan bukan makhluk yang ambisius kursi jabatan. Nalurinya yang halus menjadikannya sebagai sosok keibuan. Fitrahnya adalah menciptakan kedamaian, sebuah paradigma yang bertentangan dengan politik ala sekuler-kapitalis.

Walhasil tak banyak perempuan yang mau melirik politik. Baru belakangan ini saja perempuan mulai mengakses dunia yang dulu hanya identik dengan lelaki itu. Itupun lebih karena gengsi atau iming-iming materialistis yang menggiurkan dibanding kesadaran sebuah pengabdian.

Terbukti, ketidakpahaman perempuan dalam berpolitik praktis saat ini, telah menjerumuskan mereka pada lubang nista. Anggota DPR Wa Ode Nurhayati atau Angelina Sondakh contohnya. Mereka terpaksa meninggalkan kewajiban utamanya sebagai ibu gara-gara permainan kotor di lembaga legislatif itu.

Kalau begitu, apakah perempuan ¨haram¨ berpolitik? Justru sebaliknya, perempuan wajib melek politik. Politik dalam makna sesungguhnya, yakni berkenaan dengan pemahaman akan bagaimana tatacara melayani dan mengurusi umat.

Ya, perempuan harus paham, bagaimana seharusnya umat diatur. Perempuan wajib cerdas dan kritis terhadap kebijakan dan isu yang berkembang di masyarakat. Perempuan wajib ikut memikirkan umat. Tak harus duduk di kursi jabatan, kiprah politik perempuan berupa upaya pencerdasan kaumnya.


PARPOL SEJATI
Perempuan bisa melek politik jika ia bergabung dalam partai politik sejati yang bukan sekadar haus kekuasaan, tapi menjalankan tugas pembinaan pada anggotanya. Partai politik yang shohih adalah partai politik berideologi Islam.

Ia bertugas mencerdaskan anggotanya dan masyarakat secara umum tentang tatacara pengurusan umat. Perempuan harus ikut proses tatsqif (pembinaan) untuk menjadi kader berkepribadian Islam, cerdas, kritis dan paham berbagai cara pengurusan umat.

Dalam kitab Pembentukan Partai Politik Islam, Syaikh Taqiyuddin menyebut, individu partai tidak boleh sekadar yang bersemangat dan siap bergerak, namun juga padat dengan tsaqofah. Di sanalah terjadi proses penancapan tsaqofah, termasuk proses ricek aktivitas kesehariannya sebagai miniatur Islam. Dengan begitu lahirlah sosok politisi yang siap melayani urusan umat sekaligus sebagai teladan bagi umat.

Tidak seperti sekarang, kehadiran perempuan dalam parpol sebatas kuantitas, tanpa memperhatikan kualitas. Akibat buta politik, kontribusi mereka dalam memperjuangkan umat, khususnya kaum perempuan pun hanya fatamorgana.

TELADAN POLITISI MUSLIMAH
Sejarah Islam mencatat lahirnya politikus-politikus muslimah andal. Dimulai oleh para shahabiyah di masa Rasulullah SAW. Peran mereka tak sebatas dapur, sumur dan kasur. Mereka adalah pendidik umat, berdakwah mencerdaskan kaumnya, sekaligus menghasilkan para generasi terbaik.

Asma binti Abu Bakar mendapat gelar sebagai Zatun Naqatain (perempuan dengan dua ikat pinggang), karena kecerdikannya mengelabui para mafia Quraisy. Berkat jasanya Rasulullah SAW selamat saat hijrah ke Madinah.

Shabiyah yang lain adalah Khansa yang mendapat gelar ibu dari para syuhada. Bagaimana tidak, empat anaknya dipersembahkan untuk jihad hingga menemui syahid dengan penuh keikhlasan. Sungguh teladan perempuan berhati seluas samudera.

Selanjutnya pada era kekhilafahan, para politikus muslimah memiliki kontribusi besar dalam turut serta membangun peradaban. Abad ke-15, seorang Muhammad al-Fatih takkan pernah lahir sebagai penakluk Konstantinopel jika tak memiliki seorang ibu yang militan, Huma Hatun.

Siti Zubaidah, istri Khalifah Harun Ar-Rasyid, karya jeniusnya dikenang sepanjang sejarah. Peninggalannya berupa mata air Ain Zubaidah alias Mata Air Zubaidah di wadi Nu’man, Arab Saudi, masih dirasakan manfaatnya hingga kini, khususnya oleh para jamaah haji.

TULUS MENGABDI
Potret perempuan politikus yang berkualitas hanya akan lahir dari sistem Islam. Mereka adalah perempuan yang berambisi turut serta memikirkan kepentingan umat tanpa pamrih. Tidak mengejar kursi jabatan, bukan pula ketenaran, melainkan pengabdian tulus demi menggapai ridho Allah SWT.(kholda naajiyah)

Ibu-ibu peserta daurah ibu-anak di Tanah Baru, Bogor. Foto by Asri Supatmiati.