Siapa
yang tak kenal Marshanda. Ketika papanya ditangkap Dinas Sosial
beberapa waktu lalu, semua keheranan. Beruntung kini sang papa dan
anak sudah berkumpul kembali bersama keluarganya. Fakta miris itu
adalah bagian buruk dari potret keluarga metropolis masa kini.
Keluarga modern serba sibuk yang rentan tercerai berai.
Showing posts with label artikel. Show all posts
Showing posts with label artikel. Show all posts
Menyudahi Pengemis Abadi
Siapa yang tidak trenyuh melihat seorang ibu
lusuh menggendong bayi polos itu menadahkan tangan. Meminta belas
kasihan di perempatan lampu merah. Ibu-ibu pun segera iba dan
mengulurkan recehan. Ikhlas lillaahi ta'ala.
Tak ada yang menyangka, rumors bahwa mereka
adalah sindikat ternyata benar adanya. Penampilan memelas itu telah
menipu para dermawan. Menggendong bayi penarik simpati, padahal
hanyalah umpan. Bayi tak berdosa itu adalah korban eksploitasi.
Seperti diungkap Polres Metro Jakarta Selatan.
Sepasang kekasih, ER (17) dan S (18) ditangkap karena mengekploitasi
anak di bawah umur untuk menjadi pengemis. Satu bayi disewakan Rp200
ribu (Jawapos, 25/3/17).
Ironisnya, salah satu korban, bayi 6 bulan
bernama Bon-bon itu, diberi obat penenang Clonazepam agar tidak rewel
saat mengemis. Polisi juga menemukan 20 anak yang diduga menjadi
korban tindak kejahatan. Bahkan salah satu korban mengaku punya empat
saudara, dua diantaranya dijual ke luar kota, yaitu Klaten dan Malang
(Jawapos, idem).
Vaksinasi Bikin Galau
Bumi bebas polio 2020. Begitu target yang
dicanangkan dunia, hingga di Indonesia 8-15 Maret lalu digeber Pekan
Imunisasi Nasional (PIN). Kehebohan kembali menghebat, khususnya di
kalangan keluarga muslim pengemban dakwah.
Ibu-ibu pemilik balita galau. Anak tak
divaksin, takut beneran terserang penyakit berbahaya itu. Mau
divaksin, juga takut malah berefek buruk. Maklum, di era keterbukaan
informasi ini, begitu banyak kabar-kabar tentang vaksin yang membuat
ibu-ibu pusing tujuh keliling. Maju mundur ambil sikap: yes or no.
Mengakhiri Karier Melambai
Huru-hara lesbian, gay, biseksual dan
transgender (LGBT) mencapai klimaks. Ini setelah tertangkapnya
pedangdut Saiful Jamil (SJ) yang diduga melakukan pelecehan seksual
pada remaja laki-laki. Ibu-ibu fans berat duda berpenampilian
religius itupun dibuat patah hati.
Sebelumnya, artis kondang lain berinisial IB,
juga dituduh melakukan pelecehan seksual, meski dibantah. Lalu
sebelumnya lagi, kopi maut Mirna sempat diwarnai isu lesbianisme.
Sejatinya, fakta-fakta di atas sudah menunjukkan dengan gamblang,
betapa buruknya perilaku dan dampak LGBT. Sangat naif jika masih
dibela.
Hijab Halal di Sistem Haram
Sebuah
papan reklame di pinggir jalan meremukkan hati para muslimah. Bukan,
bukan karena reklame itu roboh. Tapi kalimat menggusarkan ini: “Yakin
Hijab yang Kita Gunakan Halal?” Kewas-wasan pun menampar pikiran.
Benarkah hijab yang telah kita kenakan dengan segenap perasaan takwa
ini masih haram? Atau minimal subhat? Tidak cukupkah label hijab
syar'i dengan parameter panjang dan menutup tonjolan badan kita
kenakan? Berabad-abad lamanya hijab diperintahkan Kanjeng Nabi,
dikenakan turun temurun hingga menjadi fashion
item wajib para muslimah masa kini.
Kenapa baru sekarang tiba-tiba (perlu) ada labelisasi halal? Deradikalisasi atau Deliberalisasi yang Dibutuhkan Anak?
*
Musuh utama umat manusia adalah sekulerisme liberal, bukan agama.
"Perlu
ada tindakan & hukuman yg tegas buat pengelola akun @gaykids***
biar tdk menjadi pelopor akun2 yg merusak generasi penerus bangsa,"
kata akun @wahyu_wibi. "@gaykids*** anak2 weehh dpat pelajaran
darimana, astagfirullah. Benar2 kiamat sudh dekat," kata akun
@MisDoraemon (TribunnewsBogor,
27/1/16).
Demikianlah
kegeraman sebagian netizen (pengguna internet, red) melihat postingan
foto anak lelaki, serta timeline
menggunakan kalimat berbau seks dari
pemilik akun. Bagaimana tak marah, kebanyakan follower-nya
anak-anak usia SMP dan SMA. Sementara postingannya sungguh tak
senonoh. Termasuk ajakan penyimpangan seksual.
Ya,
satu lagi musuh orangtua yang mengancam putra-putrinya: LGBT.
Komunitas lesbian, gay, biseksual dan transgender itu kini menyasar
anak-anak bau kencur. Setelah masuk kampus, kelainan seksual itu kini
menyasar anak usia labil, SMP dan SMA. Bahkan tidak ada jaminan kalau
anak SD belum terinveksi penyakit liberal itu. Mengingat ada pula
akun sejenis bernama gaysmp dan gaysma.
Tampaknya
kerusakan mental dan moral anak-anak di negeri ini sudah (hampir)
mencapai titik klimaks. Pacaran sudah merajalela, seks bebas bukan
barang langka, perzinahan menggila, dan kini penyimpangan seksual
menggejala. Kurang rusak apalagi?
Kriminalisasi Guru vs Hak Anak
Para pendidik sedang diuji kesabarannya.
Pasalnya, Undang-undang Perlindungan Anak (UU PA) bisa menjadi
ancaman kriminalisasi para guru. Seperti tragedi “saling gundul”
di Majalengka, Jabar, yang menjadi kisah panjang sejak 2013 lalu.
Ceritanya, 19 Maret 2013 lalu, seorang guru SD
Penjalin Kidul V, Aop Saopudin (31) menggunting rambut siswa yang
gondrong. Rupanya Iwan, orangtua sang bocah, tak terima. Aop dipukuli
dan digunduli. Didukung para guru di PGRI Kab. Majalengka, Aop lalu
lapor polisi.
Iwan lapor balik atas tindakan Aop menggunduli
anaknya. Di pengadilan, jakwa mendakwa Aop dengan 3 pasal yaitu: (1).
Pasal 77 huruf a UU PA tentang perbuatan diskriminasi terhadap anak;
(2). Pasal 80 ayat 1 UU PA tentang tindak kekerasan; (3). Pasal 335
ayat 1 kesatu KUHP tentang Perbuatan Tidak Menyenangkan.
Merindukan Mu'tashim Billah Abad Ini
Sistem
sekuler kapitalisme saat ini, tidak bisa diharapkan mampu melindungi
perempuan, kaum ibu dan anak-anak. Justru, sistem inilah yang
memproduksi berbagai kejahatan dan kerusakan dengan ibu dan anak
sebagai korban. Maka, tidak ada alasan untuk terus mempertahankan
eksistensi sekulerisme dengan paham demokrasi dan liberalismenya.
Air Mata Ibu Demi Perisai Hakiki
“Ya
Allah, kami berjanji kepadamu, bahwa kami akan menjadi penjaga Islam
yang terpercaya, kami akan bersungguh-sungguh dan berjuang sekuat
tenaga, untuk menegakkan Khilafah rasyidah, yang sesuai manhaj
kenabian. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!”
Gema
takbir menggetarkan jiwa. Merinding. Menyeruakkan keharuan. Lelehan
air mata para muslimah pun tak tertahankan. Membuncahkan kerinduan
yang mendalam atas kehadiran Khilafah. Kerinduan kaum muslimah yang
teraniaya oleh sistem sekuler kapitalis. Muslimah yang terlantar
tanpa perisai sebagai tameng penjaga kehormatan mereka.
Demikianlah
puncak Kongres Ibu Nusantara (KIN) ke 3, menutup agenda akbar
Muslimah Hizbut Tahrir (MHTI) tahun ini. Gedung Balai Sudirman,
Jakarta, Sabtu (26/12/2015), menjadi saksi sejarah atas tekad 3.000
muslimah untuk mendukung tegaknya Khilafah. Di antaranya hadir tokoh
PP Aisiyah Noorni Akma dan tokoh Alisha Khadijah ICMI, Nani Zakariya.
Merindukan Perisai bagi Ibu dan Anak
Desember
tahun 2015 ini adalah peringatan Hari Ibu ke 87. Kali ini mengusung tema
"Kesetaraan Perempuan dan Laki-laki dalam Mewujudkan Lingkungan
yang Kondusif untuk Perlindungan Perempuan dan Anak".
Ya, saat ini keselamatan ibu
dan anak tidak terjamin. Ada ancaman besar yang mengintai. Paling
mengerikan adalah ancaman kekerasan seksual. Saat ini angka
pemerkosaan ibu dan anak sangat tinggi. Komnas Perempuan mencatat,
dalam kurun 1998–2010, kasus kekerasan mencapai 400.939.
Seperempatnya atau 93.960 kasus merupakan kekerasan seksual. Artinya,
setiap hari rata-rata ada 20 (19,80) perempuan diperkosa
(kompasiana.com)
Sedangkan
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebut, jumlah kekerasan
seksual anak pada 2010 sebanyak 171 kasus, 2011 meningkat drastis
jadi 2.178 kasus, 2012 ada 3.512 kasus, 2013 sebesar 4.311 kasus, dan
2014 sebanyak 5.066 kasus. Tahun ini, hingga Agustus 2015, terdapat
6.006 kasus. Melihat
data miris ini, apa solusi negara?
Awas! LGBT Masuk Kampus
Sejak pernikahan sejenis disahkan di Amerika Serikat Juni lalu, para lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) di Indonesia seolah mendapat lampu hijau untuk eksis. Pelaku maupun penyerunya beramai-ramai unjuk gigi. Tak lagi malu-malu, bahkan sangat vulgar.
Tak hanya di klub malam, diskotek atau lokasi tersembunyi, kini LGBT sudah menerobos dunia kampus. Tak tanggung-tanggung, kampus bonafit seperti Universitas Indonesia (UI) pun telah dirasuki makhluk bernama LGBT.
Fenomena Fatherless vs Motherless
| Foto: Asri. Lokasi: Cifor. |
Tanggal
12 November lalu diperingati sebagai Hari Ayah. Memang tidak seheboh
Hari Ibu, karena peringatan itu baru diproklamirkan 2006 lalu. Bukan
oleh para ayah, tapi kaum ibu. Perkumpulan Putra Ibu Pertiwi (PPIP)
mendeklarasikannya 12 November 2006 di Solo, Jateng, diikuti Kota
Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur.
Tampaknya,
kaum ibu cukup peka untuk menggaungkan kepedulian pada ayah.
Terutama anak-anak, jangan sampai melupakan jasa-jasa seorang ayah.
Sosok yang cenderung mencinta dalam diam. Ya, jasa ayah sebagai
penopang ekonomi keluarga bukan perkara mudah. Tapi, bukan sekadar
materi yang dibutuhkan dari sosok seorang ayah. Kharisma,
kebijaksanaan, keteladanan, kepemimpinan, ketegasan dan kepedulian
pada keluarga dalam aspek pendidikan, sosial dan spiritual juga tak
kalah penting.
Membangkitkan Intelektual Perempuan
![]() |
| Kongres di Sukabumi. Foto: radarsukabumi. |
Apa
yang terbayang ketika seorang perempuan menyandang status mahasiswi?
Intelektual muda yang cerdas. Punya masa depan cerah. Profesi karir
menanti. Tak beda dengan profil mahasiswa, bukan? Ya, intelektual
muda hari ini terbelenggu dalam berbagai kesibukan perkuliahan yang
dilandasi cara berpikir pragmatis: mendapatkan ijazah untuk bekal
mencari pekerjaan.
Mereka
pun akan memilih bidang studi sesuai minat dan bakat, yang kelak
menjamin masa depan terbaik dalam karier. Lulusan perguruan tinggi,
termasuk para mahasiswi, disiapkan tak lain dan tak bukan untuk
mengisi lowongan-lowongan kerja sesuai kebutuhan
perusahaan-perusahaan.
Asap Merusak Masa Depan
![]() | |
| Foto: uniqpost.com |
Kecil-kecil Berotak Kriminil
Betapa hancur Matheus Teguh (43) dan Mirna
Suryani (39). Anak gadisnya Pricilia Dina (14) tewas tak wajar. Siswi
SMP 51 Kota Bandung itu dibunuh Senin (31/8/15) sore di pematang
sawah dekat Perumahan Grand Sharon, Cipamokolan Kota Bandung.
![]() |
| Pemakaman Pricilia Dina. Foto: hello-pet.com. |
Na'uzubillahi minzalik. Anak baru kelas 1 SMP
sudah punya pikiran membunuh orang. Otak kriminal itu didapatnya dari
mana? Bukankah tak ada satupun sekolah dan guru yang mengajarkan
anak-anak untuk membunuh? Agama manapun juga tak mengajarkannya.
Lantas mereka belajar dari siapa?
Narkoba Mengancam Anak
Lampu
merah darurat anak musti dinyalakan terang-terang. Anak-anak saat ini
terus menjadi incaran tindak kejahatan. Termasuk penculikan dan
sindikat narkoba. Terbaru, AL, bocah 11 tahun di Legenda Wisata
Wanaherang, Cibubur, diculik usai salat maghrib, 23 Agustus lalu.
Saat ditemukan, siswa kelas IV SD itu luka-luka. Setelah dites urine,
ternyata telah dicekoki narkoba (okezone, 26/8/15). Sampai tulisan
ini dibuat, masih diselidiki motif dan pelakunya.
![]() |
| Foto: kompasiana.com |
Pada
saat yang sama, ibu-ibu sempat dihebohkan berita beredarnya permen
yang mengandung narkoba di wilayah Bogor. Kabar itu menyebar secara
viral melalui broadcast yang cukup meresahkan. Kepala BNN Kabupaten
Bogor, Nugraha Setia Budi mengatakan, para pengedar mulai menyamarkan
jenis narkoba ke dalam campuran bahan pembuat permen, untuk target
pasar anak-anak pelajar. “Jenis ini diduga sudah beredar di Bogor,
kami masih melakukan penelusuran,” ujarnya, seperti dilansir Radar
Bogor, Jumat (21/8/15).
Kemerdekaan Hakiki Perempuan
Agustus
identik dengan perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia. Tahun
ini sudah ke 70. Lantas,
sudahkah kita benar-benar merdeka? Pertanyaan klise yang tiap tahun
dijawab: belum. Dalam skala negara, tampaknya kemerdekaan hanya
sebatas di atas kertas. Secara de facto, negara kita masih dijajah
ideologi sekuler-kapitalis. Secara politik masih dipengaruhi
kebijakan negara adidaya pengemban utama Ideologi ini. Pemimpin
negeri ini belum mandiri.
![]() |
| Ilustrasi. Foto: Tsabita. Lokasi: Sentul. |
Bagaimana
dengan kemerdekaan secara individu? Bung Hatta pernah berujar:
“kemerdekaan kita bukan hanya merdekanya sebuah bangsa dari
penjajahan, tetapi juga merdekanya setiap individu warga negara dari
segala macam penindasan dan penghisapan.”
Hm,
tampaknya kemerdekaan individual pun jauh dari kenyataan. Rakyat
kebanyakan masih merasakan penindasan dan penghisapan tersebut. Masih
dijajah pengangguran, kemiskinan, kebodohan, buta-huruf, hukum yang
tidak adil, pajak yang mencekik, dan seterusnya.
Tak
terkecuali perempuan. Memang, tampaknya perempuan saat ini begitu
“merdeka” dibanding 10, 20 atau 30 tahun lalu. Bisa sekolah
setinggi-tingginya. Berkiprah di mana-mana. Bebas berekspresi.
Travelling ke mana dia suka. Gampang minta cerai dan seterusnya.
Tapi, benahkah ini kemerdekaan mereka?
Pelajaran dari Tragedi Angeline
Tragedi
Angeline atau Engelina (8) membetot perhatian energi bangsa ini.
Bocah yang dinyatakan hilang sejak 16 Mei itu ditemukan tewas di
pekarangan rumahnya sendiri, Rabu (10/6). Sampai tulisan ini dibuat,
penyelidikan masih intens. Nah, tragedi Angeline bisa menjadi cermin
tentang banyak hal.
Adopsi
dalam Islam
Subscribe to:
Posts (Atom)












