Partisipasi Perempuan, Seperti Apa?


-->
Oleh Kholda Naajiyah 

Saat ini didengungkan wacana ¨abad partisipasi penuh perempuan¨ (full partisipation age). Seperti pernah dilontarkan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton tentang vitalnya peran perempuan saat ini bagi kemajuan dunia. Lantas seperti apa sih partisipasi penuh yang diinginkan?

KEPEDULIAN SEMU
Di Barat, partisipasi perempuan bisa dibilang sudah full. Hampir tidak ada batasan apapun di sana, dimana perempuan bebas mengekspresikan diri. Semua sektor sudah dirambah perempuan. Mulai profesi hina seperti wanita panggilan hingga pejabat nomor satu sekelas presiden, bisa dijabat perempuan. Kurang apalagi? Sudah kebablasan malah. Lalu mengapa masih didengungkan abad partisipasi penuh perempuan?
Tak lain, propaganda ini menyasar perempuan di negeri-negeri muslim. Khususnya negara-negara di dunia ketiga yang masih dianggap malu-malu membebaskan kaum hawa dari belenggu nilai-nilai suci agama Islam. Bahkan, masih ditemukan negara yang sangat rigid (ketat, red) dalam memperlakukan perempuan. Semisal perempuan sama sekali tidak boleh keluar rumah, tidak boleh sekolah, menyetir kendaraan sendiri, dll.
Tentu saja, harapan akan partisipasi penuh perempuan ala sekuler-kapitalis ini, tidak murni atas dasar kasih sayang dan kepeduliannya pada kaum perempuan. Barat sama sekali tidak tulus memuliakan perempuan serta mengangkat harkat mereka ke derajat semestinya. Sebaliknya, justru ingin mengeluarkan perempuan dari harkat dan martabatnya demi sebuah ambisi tertentu yang berujung pada rusaknya tata nilai kehidupan islami.
Berkaca pada kondisi di Barat, sudah lama kiprah perempuan yang melanggar fitrahnya, justru hanya menghasilkan malapetaka sosial. Seperti tingginya pelecehan dan kekerasan seksual, seks bebas, perceraian, single parent, anak bermasalah, dll. Kondisi inipun sudah mulai menular di negeri-negeri muslim, meski partisipasi perempuan di ranah publik bisa dibilang belum full. Masalahnya, perempuan yang berkontribusi untuk rumah tangga tidak dianggap berdaya alias dinilai tidak berpartisipasi.
Nah, apa jadinya jika semua muslimah mengambil peran di ranah publik atas dasar paradigma full partisipation age? Padahal, belum full saja partisipasi perempuan, sudah sedemikian rusak dampaknya. Tak terbayang, bagaimana jika para perempuan benar-benar terlibat penuh dalam segala hal.

MOTIF EKONOMI
Perhatian pada perempuan untuk meningkatkan perannya saat ini, sarat dengan kepentingan ideologi kapitalis. Ada motif ekonomis, dimana para perempuan diharapkan menjadi penyelamat perekonomian dunia yang saat ini tengah kolaps.
Terutama di Barat, krisis multidimensi hampir tak terperikan. Nah, dunia Islam diharapkan mampu menjadi penyelamatnya. Termasuk muslimah yang jumlahnya mayoritas di dunia ini, diharapkan memiliki kontribusi besar dalam menyelamatkan keadaan tersebut.
Lantas peran seperti apa yang diharapkan kapitalsime global itu? Pertama, muslimah didorong sebagai penghasil uang. Perempuan diberdayakan secara fisik, baik dengan bekerja di sektor-sektor industri, jasa, bahkan hiburan. Selain itu, digelontorkan pula modal khusus perempuan agar memiliki usaha rumahan sehingga menjadi perempuan mandiri secara finansial. Dengan kiprah mereka di bidang ekonomi ini, perempuan turut menggelindingkan roda perekonomian.
Kedua, perempuan didorong berperan dalam mengaruskan konsumtivisme. Berkat kemandirian finansial dimana perempuan mampu menghasilkan uang sendiri, maka perempuan tetap memiliki daya beli. Ia pun mampu memenuhi hasrat konsumtifnya. Tingginya tingkat konsumtivisme akan mendorong proses produksi sehingga mampu memutar roda perekonomian. Perempuan pun makin enjoy dan bahagia karena bisa memenuhi kebutuhan konsumtifnya sendiri tanpa harus bergantung pada laki-laki.
Siapa yang diuntungkan? Barat. Bukankah para perempuan (Indonesia) begitu silau dengan produk-produk asing? Pasar bebas meniscayakan banjirnya produk-produk asing dan menggilas produk dalam negeri, bahkan yang dihasilkan kaum perempuan yang capek-capek diberdayakan pemerintah melalui model pemberdayaan ekonomi keluarga itu sendiri.
Itulah motif sesungguhnya, mengapa perempuan dimotivasi agar lebih maksimal berpartisipasi dalam proses ekonomi, yakni menyelamatkan krisis Barat. Mereka didorong menghasilkan uang dan membelanjakan uang itu untuk memanjakan diri, hal yang sangat fitrah disukai kaum perempuan itu sendiri.
Lihat saja bagaimana perilaku para perempuan eksekutif yang berkecukupan materi. Senin sampai Jumat berjibaku dengan waktu, memeras energi habis-habisan. Tiba akhir pekan, mal dan tempat hiburan jadi jujukan untuk menghamburkan uang. Fenomena ini kian melanda para perempuan, tak terkecuali muslimah.

PERAN MEMBANGKITKAN
Berbeda dengan Barat, Islam menempatkan perempuan pada posisi bermartabat. Peran kaum muslimah ini sudah digariskan dengan jelas. Bahwa perempuan memiliki peran utama di rumah, sebagai ummun wa robbatul bayt dan pendidik anak. Karena itu, Islam memberi perhatian lebih pada peran vital perempuan dalam pembentukan keluarga dan pelahir generasi ini.
Misalnya, Islam tidak membebankan masalah finansial pada perempuan, sehingga ia fokus mengurus rumah tangga dan anak-anak. Namun, ia berdiri men-support suami guna menguatkan perannya dalam berbagai kiprah. Perannya ini akan menjaga bangunan institusi keluarga sebagai unit terkecil dari masyarakat dan negara.
Tentu saja, muslimah diwajibkan cerdas dengan terus menuntut ilmu dan mengkaji tsaqofah sebagai bekalnya. Darimana mendapatkan ilmu ini? Jika tak mampu diperoleh di rumah, dibolehkan keluar rumah seperti ke majelis ilmu atau pendidikan formal. Siapa yang mengajarkan? Bisa sesama muslimah. Karena itu, peran strategis muslimah di ranah publik juga sebagai daiyah yang berkontribusi dalam mencerdaskan kaumnya.
Peran ini bukan remeh temeh. Ini adalah peran politik dan strategis perempuan dalam pandangan Islam yang memiliki kontribusi sangat besar dalam pembentukan keluarga yang tangguh, generasi terbaik dan masyarakat madani.
Karena itu, semestinya pengarus-utamaan peran muslimah saat ini adalah berupa pencerdasan politik pada perempuan. Ini agar mereka memahami hakikat diri dan berkiprah sesuai fitrahnya. Jangan sampai muslimah tenggelam dalam arus pemberdayaan ala Barat yang akan menggerus dan selanjutnya menghilangkan identitasnya sebagai muslimah sejati.(kholda)

Istri Gubernur Jawa Barat, Netty Prasetiyani Heryawan saat berkunjung ke Graha Pena Radar Bogor. (Foto by Sofyansah. Location: Graha Pena, Yasmin, Bogor)

Jangan Nyinyir Soal Poligami


* Seri Catatan Harian Bunda (10)


Suatu ketika saya menyimak obrolan ibu-ibu ideologis tentang tema poligami di dunia maya. Tepatnya di salah satu grup. Salah satunya, menyindir status-status facebook seorang ikhwan (mohon maaf bagi yang merasa tersindir), yang sangat lebay memposting poligami dengan sangat provokatif.
Sejatinya saya setuju dengan ibu-ibu tadi: muak dan eneg menyimak status FB soal poligami tersebut. Walaupun --seperti biasa-- saya cuma baca-baca sekilas, malas nimbrung ikut terjebak pro-kontra. Saya memang bukan orang yang suka –tepatnya merasa buang-buang waktu-- mengomentari status-status (gak penting) seseorang.
Jangankan komentar tulisan orang lain, meng-up date status sendiri pun nggak selalu tiap hari. Padahal tiap hari sebenarnya online dan memantau FB (cieh...memantau), kecuali hari Ahad. Apalagi sejak punya grup Belajar Nulis, sangat jarang up-date status pribadi. Komentar di grup pun hanya yang benar-benar saya merasa harus komentar. Yah, saya memang orang yang pelit kata-kata hehe...
Nah, kembali ke soal poligami, saya merasa prihatin. Kenapa poligami jadi bahan gunjingan, khususnya di dunia maya. Bahkan di BlackBerry pun, ada grup yang ngerumpiin soal poligami. Tentu saja yang gabung para ikhwan (info ini saya dapat juga dari salah satu ikhwan, bukan suami saya loh ya!). Duh!
Terdorong rasa galau, daripada komentar di dunia maya yang dibaca seantero dunia, saya lebih suka action langsung. Saya mengontak ikhwan tersebut (kebetulan saya kenal) dan ¨memprovokasinya¨ agar praktik poligami daripada sekadar wacana-wacana.
Ia pun menantang untuk dicarikan calon. Oke, saat itu juga segera saya ¨sodorkan¨ biodata akhwat yang kebetulan siap untuk menjalani pernikahan, baik monogami maupun poligami. Hasilnya? Nihil! Tidak ada jawaban sampai sekarang. Dan setahu saya, sampai sekarang ikhwan itu belum juga berpoligami. Tapi status di FB-nya, masih juga menyinggung poligami. Duh!
Lalu ada ikhwan lain –karena mendapat info saya punya beberapa kandidat akhwat yang siap dinikahi, termasuk dipoligami-- mengontak dan mencari info tentang akhwat kepada saya. Hasilnya? Tak ada action sampai sekarang.
Padahal, di sekitar saya memang benar-benar ada akhwat-akhwat yang siap dinikahi, baik monogami maupun poligami. Ada yang gadis, ada pula yang janda. Mereka belum juga bertemu jodohnya hingga saat ini. Ingin sekali membantu mereka. Ya, saya termasuk orang yang suka jadi makcomblang hehe...
Akhirnya beberapa saya bantu, tapi juga belum berjodoh. Sampai saat ini belum ada ikhwan yang mau (setidaknya beberapa ikhwan yang saya kenal). Semoga bukan karena poligami hanya dijadikan bahan gunjingan nyinyir. Sebagaimana tulisan ini, mungkin ada di antara Anda yang membatin: nggak penting banget sih!(*)

Bogor, 18 September 2012

Singa sang raja hutan yang dikenal playboy, raja kawin hehe...(Foto by Asri. Location: Taman Safari Indonesia).

Pertaruhan Integritas Bernama UN



Oleh Asri Supatmiati
Jurnalis, Penulis Buku-buku Islam

Ujian Nasional (UN), baik di tingkat SD, SMP maupun SMA, seolah sepaket dengan isu-isu (fakta?) berikut: kecurangan, beredarnya kunci jawaban, kesalahan teknis penilaian, dan hura-hura pasca pengumuman kelulusan. Sampai kapan ini terus berulang? Tidak adakah mekanisme untuk menghentikannya?

UJIAN INTEGRITAS
Sudah menjadi rahasia umum, pelaksanaan UN mempertaruhkan integritas para siswa, guru, kepala sekolah dan bahkan pengambil kebijakan di Dinas Pendidikan. Pasti, setiap sekolah memiliki target kelulusan 100 persen. Target itu turun-temurun dari pundak kepala daerah, ke Dinas Pendidikan, ke kepala sekolah, ke guru lantas ke siswa.
Target lulus ini, menyangkut jabatan, nama baik daerah dan sekolah bersangkutan. Prestasi kelulusan menjadi salah satu parameter sekolah dalam penerimaan siswa tahun ajaran baru. Label sebagai sekolah yang sukses meluluskan anak didiknya akan menaikkan taraf gengsi. Itu artinya berkah berupa kelimpahan jumlah siswa akan didapat pada tahun ajaran baru nanti.
Selanjutnya, peluang bagi sekolah tersebut untuk menjaring siswa-siswa potensial dengan nilai terbaik. Ini penting guna mendongkrak kembali prestasi sekolah, baik melalui UN maupun yang lainnya di tahun berikutnya.
Sayangnya, tanggungjawab mengharumkan nama baik sekolah ini kerap dilakukan dengan cara-cara tidak terpuji. Di sinilah dipertanyakan, dimana letak integritas para pendidik sebagai orang-orang yang tercelup di lembaga pendidikan? Bukankah pendidikan terlanjur ditahbiskan sebagai “dunia suci” yang jauh dari intrik-intrik, kecurangan, keculasan, kolusi dan korupsi?
Profesi pendidik adalah teladan. Guru, digugu dan ditiru (didengar dan diikuti, red). Anak didik selalu merujuk pada guru. Guru adalah “malaikat” kecil di tengah pelajar. Guru selalu benar, tidak boleh salah. Guru di mata anak didik adalah “sosok suci”.
Bukankah berjuta kali guru memberi wejangan tentang kejujuran, kedisiplinan dan nilai-nilai kebaikan pada anak didiknya? Akankah bangunan kepercayaan yang disemai selama bertahun-tahun itu dibiarkan runtuh seketika demi sebuah predikat lulus UN?
Jika para pendidik --baik sebagai guru atau elemen pengambil kebijakan-- mampu menjaga dan mempertahankan integritasnya, anak didikpun akan menaruh hormat dan respek padanya. Bahkan, ini akan mendorong anak didik untuk mengedepankan integritasnya pula dalam menghadapi UN. Artinya, sekalipun banyak peluang di depan mata untuk berbuat curang atau culas, jika pelajar memegang teguh prinsip kejujuran, peluang itu akan dianggap angin lalu.
Dengan begitu, tidak usah terlalu mengkhawatirkan beredarnya kunci jawaban, isu kebocoran soal dan sejenisnya. Pelajar yang menjunjung tinggi integritasnya akan percaya diri dengan kemampuannya. Ia optimis dengan hasil usahanya sendiri dan tak tergoda berbuat curang.
Sayang, pelajar seperti ini sudah semakin jarang ditemukan. Kejujuran sangat mahal. Jujur sama artinya bunuh diri. Masih ingat dengan kasus nyontek massal yang dibongkar Alif dan ibunya, Siami di Surabaya, Mei 2011 lalu, yang justru berakhir pada pengucilan mereka oleh sekolah dan para tetangga? Sungguh miris!

KLIMAKS STRES
UN dianggap satu-satunya parameter keberhasilan anak didik. Untuk mencapai keberhasilan UN, trial and error tak henti di-uji-cobakan di lembaga pendidikan. Tujuannya, demi melahirkan lulusan ideal. Sayang, alih-alih melahirkan lulusan yang mumpuni di bidang sainstek dan takwa, sebagaimana maklumat tujuan pendidikan nasional, output UN kian tahun kian mengecewakan. Salah satunya, tergadaikannya integritas para pelakon di dunia pendidikan.
Ini akibat UN terlalu disakralkan. Lulus UN seolah selamat dari kiamat. Ini karena kecerdasan siswa hanya diukur dari angka-angka, itupun hanya beberapa pelajaran. Masa depan mereka tergantung UN. Adapun perilaku dan moral pelajar sama sekali diabaikan.
Akibatnya, pemahaman soal nilai-nilai kebaikan dan nilai-nilai agama sangat minim selama proses belajar mengajar. Dengan tingkat keimanan dan ketakwaan yang masih labil akibat minimnya pendidikan agama, ditambah lagi beban berat kurikulum pembelajaran, membuat pelajar cenderung stres. UN adalah klimaksnya, apapun dilakukan demi melewatinya dengan mulus, termasuk menghalalkan segala cara.

PENDIDIKAN MORAL
Perlu perubahan revolusioner untuk menghapus tradisi kecurangan dalam UN. Pertama, harus ada penanaman rasa tanggung jawab intelektual kepada para pelajar. Bahwa, menuntut ilmu itu sebuah kewajiban mulia, jangan dianggap beban berat. Menuntut ilmu harus sungguh-sungguh dengan enjoy, sehingga terbiasa menghadapi ujian. Mentalnya siap menerima apapun hasil ujian.
Kedua, sistem pendidikan sejak awal harus dikondisikan untuk melahirkan siswa yang berkepribadian Islam dan menjunjung nilai-nilai moral. Mereka memiliki tanggungjawab untuk menolak kecurangan, bahkan antihura-hura pasca UN dengan corat-coret seragam atau konvoi kendaraan. Mereka paham bahwa itu tindakan sia-sia yang tak bernilai pahala.
Sekarang ini, penanaman mental dan moral hanya dilakukan sesaat menjelang UN. Sebelum UN mengadakan muhasabah bersama, tausiyah oleh ustad dan zikir bersama. Menjelang UN mendekati Allah SWT, saat UN tak ingat Allah dengan main curang, dan pasca UN, semakin jauh dari Allah SWT.
Ketiga, sistem pendidikan, termasuk kurikulumnya, disesuaikan dengan perkembangan usia anak didik dan minatnya. Jangan disamaratakan kemampuan siswa dengan UN yang tolak ukur pelajarannya sama. Tidak semua anak jago matematika, mungkin dia lebih jago bidang lain. Karena itu, perlu evaluasi, masihkah UN menjadi model ideal sebagai parameter keberhasilan siswa?
Di sinilah peran institusi pemerintahan yang mengurusi masalah pendidikan. Tentu, sistem pendidikan ideal adalah sistem pendidikan Islam yang menanamkan ketakwaan pada anak didik sejak usia dini, sehingga menjadi pribadi kuat yang siap menghadapi apapun. Pribadi yang menjunjung tinggi kejujuran dan menolak tindakan tak terpuji demi tujuan apapun. Apalagi sekadar UN, sama sekali bukan ritual sakral yang harus ditakuti.(*)

Peserta UN sedang serius mengerjakan soal. Foto from Google.



Seks Bebas Makin Liar



Oleh Asri Supatmiati, S.Si
Penulis Buku “Indonesia dalam Dekapan Syahwat”

Nilai-nilai umum di masyarakat menyepakati bahwa bermesraan dengan lawan jenis yang bukan pasangan sahnya, berciuman, berselingkuh hingga berzina adalah tindak asusila. Semua mengutuknya. Agama manapun mengharamkannya, menganggapnya sebagai perilaku maksiat. Namun lihatlah saat ini, di sekitar kita, di masyarakat yang mayoritas menganut Islam ini, perilaku yang melabrak nilai-nilai sakral itu sudah bukan barang langka. Pelakunya pun makin liar, tak lagi memiliki rasa malu dan usianya semakin dini.
Data yang menyebut separuh gadis di Jabodetabek tak lagi perawan adalah buktinya (BKKN.go.id, 2010). Di Surabaya, remaja perempuan lajang yang kegadisannya sudah hilang mencapai 54 persen, di Medan 52 persen, Bandung 47 persen, dan Yogyakarta 37 persen. Padahal data hanyalah fenomena gunung es, dimana jumlah sebenarnya jauh lebih banyak.
Berita anak gadis hamil di luar nikah sudah tak asing. Meski tidak ada data resminya, namun jika dikaitkan dengan data aborsi, akan membuat kita mengelus dada. Menurut Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, dr Titik Kuntari MPH seperti tikutip inilah.com (30/06/2009), aborsi di Indonesia berkisar 2-2,6 juta kasus pertahun, atau 43 aborsi untuk setiap 100 kehamilan. Sekitar 30 persen di antaranya dilakukan remaja usia 15-24.
Akibat perilaku zina lainnya adalah inveksi HIV/Aids, dimana angkanya terus melonjak setiap tahun. Data Kemenkes pada pertengahan 2010, HIV/AIDS di Indonesia mencapai 21.770 kasus AIDS positif dan 47.157 kasus HIV positif dengan persentase pengidap usia 20-29 tahun (48,1 persen) dan usia 30-39 tahun (30,9 persen).
Kasus penularan HIV/AIDS terbanyak ada di kalangan heteroseksual (49,3 persen) dan IDU atau jarum suntik (40,4 persen). Narkoba sebagai salah satu pemicu seks bebas dan penularan HIV dikonsumsi oleh 3,2 juta jiwa. Sebanyak 75 persen di antaranya atau 2,5 juta jiwa adalah remaja.
Dampak perilaku ini jelas sangat membahayakan. Terutama dalam menciptakan kualitas generasi di masa mendatang. Apa jadinya jika di usia dini mereka sudah terbiasa bertindak maksiat, menghalalkan perzinaan dan gonta-ganti pasangan. Generasi yang lahir hanyalah generasi cacat moral, bahkan lemah fisik tergerogoti penyakit menular seksual.
Kebiasaan aborsi pada remaja, juga berpotensi menyebabkan infertilisasi alias kemandulan. Ketika seks bebas sudah didewakan, maka institusi pernikahan kelak tinggal kenangan. Kalau sudah begitu, bagaimana akan diharapkan generasi baru berkualitas bisa dilahirkan? Ancaman lost generation pun bukan basa-basi.
Memang, pemerintah sebenarnya tidak tinggal diam. Sayang, upaya-upaya untuk mengantisipasi krisis moral ini menemukan jalan buntu. Kebijakan yang ada bukannya mencegah seks bebas, justru menumbuhsuburkan. Bahkan, sangat kontraproduktif.
Seperti mengajarkan remaja dengan pendidikan seks yang salah kaprah, yang justru membangkitkan rangsangan seksual. Atau menggencarkan kampanye penggunaan kondom dengan dalih mencegah penularan penyakit menular seksual termasuk HIV/Aids.
Lebih parah lagi, malah membuka keran lebar-lebar pertumbuhan produk-produk pembangkit birahi, seperti majalah porno, bacaan ngeres, video mesum, film setan-seks, musik cabul dan tayangan pengundang syahwat lainnya. Buktinya, lembaga sensor loyo.
Undang-undang Pornografi yang ada, sama sekali tumpul berhadapan dengan uang. Hasilnya, hanya menggelembungkan kekayaan para pemilik media dan pelaku industri hiburan sebagai garda terdepan liberalisasi seks. Sebaliknya, menambah jatuhnya deretan korban kejahatan seksual, pelaku penyimpangan seksual dan mendorong remaja berperilaku amoral.
Bahkan dengan dalih memajukan industri pariwisata, daya tarik seksual pun dijual. Perempuan dijadikan magnet penyumbang devisa. Sementara pasal-pasal penjerat tindak asusila yang ada, sama sekali tak mempan mengganjar pelaku dengan hukuman setimpal, sekaligus mencegah orang lain agar tak berbuat serupa.
Pemerintah pun tampak abai dalam membekali generasi dengan nilai-nilai agama. Pelajaran agama mendapat porsi minim. Lingkungan sekolah tidak islami, bahkan sudah terlanjur hedonis dan permisif. Pembinaan agama di luar sekolah dicurigai, bahkan pesantren tempat pembibitan nilai-nilai moral distigmatisasi negatif. Keluarga-keluarga modern yang serba sibuk memikirkan materi, cenderung membiarkan generasi muda tumbuh seiring kemajuan teknologi informasi yang sarat dengan info-info sampah.
Semua terjadi karena sistem yang ada, yakni kapitalisme-sekulerisme, tidak mampu melindungi masyarakat dari kerusakan moral. Bahkan, memang sistem inilah yang secara sistematis telah melakukan proses perusakan moral masyarakat. Menggilanya seks bebas bukan sekadar konsekuensi kemajuan zaman, melainkan suatu kesengajaan yang dirancang untuk menjauhkan umat Islam dari ajarannya. Indonesia menjadi ladang proyek liberalisasi seks yang diemban ideologi sekuler.
Untuk itu, dibutuhkan kerjasama semua pihak. Seks bebas sebagai penyakit sosial menjadi tanggung jawab kita bersama. Negara, masyarakat, keluarga dan individu-individu wajib menanggulanginya. Negara adalah benteng terdepan dalam menghadang budaya seks bebas yang bukan berakar dari nilai-nilai agama dan budaya kita. Perlu tindakan tegas mencekal berbagai produk perusak moral dan menerapkan hukuman setimpal bagi pelanggarnya. Juga, menerapkan sistem hukum yang tegas bagi para pelaku amoral.
Sementara masyarakat, harus menghidupkan amar-makruf nahi munkar agar tercipta masyarakat yang bersih dari perilaku amoral. Tentu saja, peran keluarga memegang kunci. Adalah kewajiban orangtua mendidik dan menjaga anaknya agar tidak terjerumus seks bebas. Membekali mereka dengan nilai-nilai halal-haram, membentuk menjadi kepribadian yang kuat dan kokoh, yang tak mudah terbeli kesenangan duniawi.(*)

Balita Pencari Nafkah



Oleh Asri Supatmiati, S.Si
Nara Sumber Voice of Islam, Program Cewek Only

Belakangan ini ajang adu bakat untuk anak-anak, bahkan bayi dan balita mencuat lagi. Di antaranya yang diselenggerakan oleh produsen beberapa merek susu formula. Mirip Idola Cilik yang kini sedang vakum, tapi menjaring usia lebih muda, mulai 3 hingga 6 tahun. Tujuannya: untuk menggali kemampuan sang buah hati dalam hal bernyanyi, menari, bermain musik atau gabungan ketiganya. Diharapkan, mereka menjadi anak yang kreatif dan percaya diri.
Seperti biasa, ajang seperti ini disambut luar biasa antusias oleh para orangtua. Mereka berlomba-lomba mendorong putra-putrinya untuk berani tampil. Apalagi kesempatan sangat terbuka. Maklum, audisi pencari bakat balita ini berlangsung di 25 kota di seluruh Indonesia. Nanti, pemenang di babak final, baru “diboyong” ke Jakarta untuk menampilkan kebolehannya. Perjalanan cukup melelahkan untuk menjadi bintang bayi.

EKSPLORASI
Mengekplorasi bakat anak-anak boleh-boleh saja, bahkan penting. Masing-masing anak memiliki talent dan kecenderungan untuk mengasahnya menjadi sebuah hobi yang menyenangkan. Selain itu, juga mengembangkan nalar dan kreativitasnya. Selama tujuannya untuk mendukung pendidikan, mendorong keinginan untuk mencuatkan potensi terpendam anak, sah-sah saja.
Bahkan, terkadang memang diperlukan ajang untuk menyalurkan energi anak di bidang kreativitas yang cenderung kurang wadah. Namun, jangan sampai ajang seperti ini jadi wadah untuk sekadar mencetak artis cilik.
Terutama orangtua, jangan sampai terobsesi dengan segala kelebihan anaknya. Ia lantas berharap anaknya –terutama yang menang-- akan menjadi mesin uang. Mendapat tawaran show sana-sini, jadi bintang iklan, main sinetron, jadi penyanyi, main film, dll.
Berlindung di balik ungkapan “demi anak”, orangtua bekerja keras menjadikan anaknya mau dan berani menjadi bintang. Bukan semata-mata kehendak si anak, tapi ambisi orangtua. Ujung-ujungnya duit puluhan, bahkan ratusan juga mengalir deras. “Hasilnya kan ditabung untuk masa depan dia juga,” begitu alasan sang mama-papa.
Anakpun, akhirnya terbentuk menjadi pribadi yang sok ngartis. Sehari-hari berlagak bak idola, bergumul dengan jadwal show yang padat dengan segudang fasilitas mewah plus lingkungan pergaulan glamour. Ia kehilangan dirinya sendiri: waktu bermain, hak privacy, dan teman-temannya.
Di sinilah dipertanyakan, batasan antara “ekplorasi” potensi anak dan “eksploitasi.” Sejatinya tipis sekali, karena jika tidak mampu mengendalikan diri, niscaya orangtua jatuh ke dalam kubangan eksploitasi anak.
Masalahnya, eksploitasi anak kerap hanya dialamatkan kepada kaum marginal. Ketika ada anak-anak mengemis, mengamen atau dipekerjakan, serta merta orangtuanya dituduh telah mengeksploitasi anak. Mereka dicaci dan maki, dicap orangtua gagal, tak bertanggungjawab, menelantarkan dan melanggar hak asasi anak.
Padahal, mayoritas kondisi itu terjadi karena keterpaksaan. Orangtuanya miskin, tidak berpendidikan, tidak memiliki penghasilan tetap, bahkan juga menggelandang. Mana ada orangtua di dunia ini yang tega melihat anaknya terlantar? Yang ada, negaralah yang tega membiarkan para orangtua seperti ini, kesulitan dalam memenuhi hak-hak anaknya.
Walhasil, anak-anak kaum marginal ini, boro-boro mendapat kesempatan meng-eksplore talentanya, mereka disibukkan diri mengais recehan. Di usia sangat dini mereka harus bergumul dengan kejamnya dunia. Kejamnya sistem yang tidak menjamin kesejahteraan dan keadilan, bagi orangtuanya, termasuk dirinya.
Nasib mereka jelas sangat kontras dengan dunia anak-anak di panggung hiburan. Orangtuanya, produsernya dan semua yang terlibat dalam eksploitasi justru disanjung dan dipuji. Tak pernah disorot dan dituding mengeksploitasi anak-anak alias bocah dibawah umur itu. Mereka justru dianggap berjasa bak pahlawan, karena berhasil menemukan bakat terpendam anak hingga menjadi “sukses”. Apa ukuran suksesnya? Terkenal dan mendatangkan uang.

MATERIALISTIS
Cara pandang yang sungguh tidak adil seperti di atas, dipengaruhi pola pikir dan gaya hidup masa kini yang serba materialistis. Bagi kalangan tertentu, anak dianggap aset bagi orangtuanya. Selama aset itu bisa dimanfaatkan untuk mendatangkan materi, kenapa tidak?
Mereka akan selalu berdalih, semua itu demi masa depan anak. Justru dengan mendapatkan honor, anak-anak mampu mewujudkan semua keinginannya. Lagipula, anak-anak enjoy, tidak merasa terpaksa dan dipaksa.
Padahal sudah bukan rahasia, anak-anak yang diorbitkan menjadi artis sejak usia dini, tak sedikit yang labil jiwanya. Kalaupun ada artis cilik yang sejak kecil menunjukkan ke-enjoy-annya, juga berprestasi bagus di sekolah, bisa dihitung dengan jari.
Yang pasti, umumnya artis cilik harus mengikuti jadwal manggung sana-sini yang cukup menyita energi. Belum lagi syuting sinetron atau iklan yang kerap sampai pagi. Mereka tak sempat bermain normalnya anak kecil, kecuali di sela-sela “jam kerjanya.” Padahal bermain adalah dunia anak yang sangat berharga.
Terlebih, sebagai idola, mereka dituntut tampil tanpa cela. Harus selalu tampak anggun, imut dan menggemaskan. Harus mandiri, tidak boleh cengeng, tak boleh melakukan kesalahan dalam setiap penampilannya.
Yang lebih memprihatinkan, anak-anak dengan bakat luar biasa ini, akhirnya hanya akan menjejali dunia hiburan ketika dewasa. Hampir dipastikan, artis cilik akan selamanya menjadi artis hingga dewasa, atau bahkan usia senja. Maklum, sudah mencicipi nikmatnya dapat duit di panggung hiburan yang serba gemerlap, akhirnya mengabaikan cita-cita luhurnya di masa lalu.
Akhirnya, tujuan mulia untuk menggali potensi anak demi mendukung pengembangan kecerdasan dan kreativitasnya di masa depan menjadi tergadaikan. Semoga bukan seperti ini yang akan terjadi. Semoga ajang-ajang penggalian bakat anak benar-benar murni sekadar sebagai wadah kreativitas anak. Bukan kedok melahirkan mesin-mesin uang baru di industri hiburan yang memang sangat menggiurkan.(*)

Abyan (baju hijau) menyanyi di perpisahan PAUD Belia Kita. Anak-anak suka nyanyi dan seni lainnya, tapi bukan untuk dieksploitasi. (Foto by Asri. Location: PAUD Belia Kita, Curugmekar, Bogor)


Republik Zina Menunggu Binasa



Oleh Asri Supatmiati, S.Si
Penulis buku “Indonesia dalam Dekapan Syahwat”

Masih gadis sudah tidak perawan? Tak perlu mengernyitkan dahi. Saat ini perempuan belum menikah tapi sudah tidak virgin bukanlah barang langka. Survey terbaru yang dilakukan lembaga internasional DKT bekerja sama dengan Sutra and Fiesta Condoms mengungkap, remaja tak lepas dari seks bebas. Buktinya, 462 responden berusia 15 sampai 25 tahun semua mengaku pernah berhubungan seksual. Semua, 100 persen! Dan, mayoritas mereka melakukannya pertama kali saat usia 19 tahun. Survey dilakukan Mei 2011 di Jakarta, Surabaya, Bandung, Bali, dan Yogyakarta (Republika.co.id, 12/12/2011).
Selanjutnya, data yang diungkap lebih miris lagi. Yakni, sebanyak 88 persen hubungan seks dilakukan bersama pacar, 9 persen dengan sesama jenis (terutama wanita), dan 8 persen dengan PSK (untuk pria). Umumnya mereka melakukan zina di tempat kos (33 persen), hotel atau motel (28 persen), sementara rumah 24 persen. Lama pacaran mereka sebelum berhubungan seksual, rata-rata satu tahun.
Perzinaan agaknya sudah menjadi gaya hidup sebagian warga berhaluan liberal di Republik ini. Tepatnya, sejak kran liberalisasi di berbagai bidang dibuka, life style ala Barat yang sarat dengan gelagak syahwat turut menjadi penumpang gelap. Dilegalkan tidak, tapi merebak di mana-mana. Pornografi, pornoaksi, pelacuran, permesuman dan hiburan maksiat, begitu dekat, mengulik urat syahwat.
Tak peduli lelaki baru baligh, atau gadis bau kencur, jika saraf-saraf nafsunya sudah diobrak-abrik, apa pun dilakukan. Jika pintu legal pernikahan begitu terjal, zina gratis jadi pelampiasan. Toh suka sama suka, saling menguntungkan, tak ada yang dirugikan. Dan lebih penting, toh tak ketahuan. Boro-boro dikenai rajam atau sekadar dikucilkan, dengan bangga pelaku zina mem-videokan adegan vulgarnya.
Bagaimana dengan memperkosa? Memang terlalu berat risikonya. Kalau zina suka sama suka, tidak ada delik pidananya. Perkosaan hanya dilakukan mereka yang “kebelet” melampiaskan nafsu tapi tak punya pacar, atau tak punya uang untuk membayar pelacur. Juga, yang tak kuat nikah karena biaya administrasinya mahal, atau tak punya calon saking tak lakunya. Dan, di negeri ini, tipe seperti inipun tak kalah banyaknya. Fenomena pemerkosaan di angkutan umum adalah salah satunya. Korbannya sudah banyak berjatuhan, perempuan semakin terancam di luar sana. Kejahatan seksual mengintai setiap detik. Kalau tak diperdaya dengan rayuan gombal, dicaplok para pemerkosa. Duh!

Melarang atau Merangsang?
Omong kosong jika negara melindungi warganya. Yang ada bukannya melarang, malah merangsang mereka untuk menjadi penikmat syahwat. Memblokir situs porno hanya sebatas niat baik. Baru sejenak sudah jebol lagi. Bahkan dipelopori jajaran pejabat sendiri (ingat kasus anggota DPR yang ketahuan mengakses situs porno saat sidang?).
Juga, tidak pernah bersedia menghukum berat para pelaku zina. Bagaimana pelaku zina akan kapok, kalau ketahuan justru dinikahkan? Jangan heran jika kita membaca berita, tiap hari selalu ada episode-episode anyar video-video mesum amatir dengan aktor-aktris muda-mudi yang dimabuk asmara, pelajar kurang ajaran, atau pasangan selingkuh.
Sekali lagi, negara justru menggelontorkan kebijakan yang memperlonggar perzinaan. Media massa, novel, komik, iklan, lukisan, sinetron, film, foto, lagu dan tayangan realty show bertema cabul pun bebas beredar. Tidak akan dibredel sekalipun sudah protes massal oleh masyarakat. Pelacuran, eksploitasi aurat perempuan, dan tempat-tempat hiburan yang menjajakan syahwat, dibiarkan. Tidak akan ditutup asal menyumbang pajak.
Di sisi lain, negara membuat berbagai larangan untuk menyumbat penyaluran syahwat dengan cara-cara legal. Usia pernikahan terus dinaikkan, biaya nikah dimahalkan dan syarat penikahan diperketat. Termasuk, upaya pelarangan poligami sekalipun bagi mereka yang mampu. Mungkin memang inilah yang diharapkan negara liberal ini: industri porno menggeliat, zina dini meningkat, pemerkosaan berlipat, kehamilan di luar nikah tumbuh cepat, aborsi dipersingkat, dan lahirlah generasi-generasi bejat. Persis di Barat, yang kini di ambang kebinasaan. Akankah Republik ini diam saja menunggu saat yang sama?

Menolak Agama?
Fenomena di atas tentu bukan perkara remeh. Muda-mudi calon pemimpin masa depan, sudah sedemikian amoral. Berani menghalalkan zina yang jelas-jelas diharamkan. Anehnya, terhadap persoalan ini, tidak ada –kecuali kalangan Islam-- yang menuding sistem hidup sekuler-liberallah yang menjadi akar masalahnya. Padahal sistem inilah yang “mewajibkan” remaja pacaran, hingga merasa tak gaul tanpa berhubungan badan dengan pujaan hatinya.
Sistem inilah yang mengajarkan, bahwa perempuan harus membuka auratnya, mempertontonkan kepada lelaki bukan mahromnya. Sistem inilah yang memandu tumbuh kembang remaja, tanpa didampingi kedua orangtuanya yang sangat sibuk digilas roda perekonomian. Sistem inilah yang memberhalakan materi, uang dan kenikmatan seksual.
Memang, mereka mengharapkan “agama” (baca: Islam) mampu menyelesaikan persoalan ini. Pada saat remaja ketahuan amoral, segera semua pihak berteriak “ini karena kurangnya pendidikan agama” atau “para ulama harusnya lebih berperan membina akhlak remaja” dan “para guru dan orangtua harus menanamkan nilai-nilai moral lebih intens pada anak-anaknya.”
Agama dijadikan tong sampah saja, sekadar untuk memperbaiki keadaan yang sudah rusak. Anak nakal dan bandel, dikirim ke pesantren. Image pesantren sebagai pendidikan mulia pun babak belur. Terlebih lagi, pada saat yang sama diopinikan bahwa pesantren adalah “produsen” teroris. Lulusan pesantren, orang-orang mukhlis itu, didakwa membahayakan eksistensi negara. Sementara para pelaku maksiat dianggap pahlawan penyumbang devisa.
Tapi, baiklah, agama (baca: Islam) bersedia memperbaiki keadaan. Bahkan punya sulosi komprehensif untuk menuntaskan segala persoalan. Bukan hanya mengatasi perzinaan, itu terlalu “mudah.” Bahkan mengatasi kemiskinan, kelaparan, ketimpangan sosial, kriminalitas, dll, serahkan saja padanya.
Tapi, mengapa ketika Islam –yang dipeluk mayoritas penduduk negeri ini-- mengajukan syariatnya sebagai solusi, dicap mengancam eksistensi negara, radikal, ekstrimis, intoleran, bahkan antipemerintah? Kenapa negara dengan setia menerapkan sekulerisme, padahal sekulerisme itu sendirilah yang melahirkan semua kebobrokan sosial ini? Sebaliknya, kenapa menuduh ideologi Islam, yang belum pernah diberi kesempatan memerintah negeri ini, dengan tuduhan-tuduhan miring? Tampak jelas, siapa yang bermuka dua, antara butuh dan tidak butuh terhadap Islam.
Inilah tanda-tanda akhir zaman. Ketika perzinaan merajalela dan masyarakat menganggapnya biasa. Kalau sudah begini, Republik ini tinggal menunggu kebinasaan. Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, Abu Malik al Asy'ari bahwa dia mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sungguh ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan/menganggap halal perzinahan, sutera, minuman keras, dan musik-musik." (HR. Bukhari)
Diriwayatkan pula dari Abu Hurairah r.a, dari Nabi SAW beliau bersabda: "Demi Allah yang diriku di tangan-Nya, tidaklah akan binasa umat ini sehingga orang-orang lelaki menerkam wanita di tengah jalan (dan menyetubuhinya) dan di antara mereka yang terbaik pada waktu itu berkata, "alangkah baiknya kalau saya sembunyikan wanita ini di balik dinding ini." (HR. Abu Ya'la. Al Haitsami berkata, "perawi-perawinya shahih." Lihat Majmu' Zawaid: 7/331)(*)



Indonesia Kiblat Fesyen Muslim Dunia



Oleh Asri Supatmiati, S.Si
Jurnalis, Penulis Buku-buku Islam

Indonesia dinobatkan menjadi kiblat fesyen muslim dunia 2020. Penghargaan tersebut diberikan oleh International Fair of Muslim World yang diselenggarakan oleh Union Des Mussulmans de France (Perkumpulan Masyarakat Muslim Perancis). Sebagai bentuk apresiasi, Indonesia dipercaya untuk memamerkan sejumlah pakaian muslim dari 13 desainer di Le Bourget Exhibition Center, Paris pada 17-19 Desember mendatang (Republika.co.id, 8/9/11)
Berita ini tentu menggembirakan sekaligus membanggakan. Sudah sewajarnya jika negeri berpenduduk muslim terbesar dunia ini menjadi kiblat dunia Islam. Sudah saatnya pula busana muslim mendunia. Ini sekaligus membuktikan bahwa Islam bukan hanya Arab, Timur Tengah atau Palestina. Kita berharap, para desainer mampu menunjukkan pada dunia bahwa fesyen Muslim bukanlah karya terbelakang, bahkan sangat modern dan trendy.

EKSISTENSI JILBAB
Dunia mode sejak lama berkiblat di Paris. Karya desainer di sana selalu menjadi trend setter global. Panggung cat walk Paris adalah impian semua desainer. Peluang Indonesia untuk tampil perdana di pusat mode Paris itu pun disambut antusias. Telah terpilih 13 desainer yang akan memamerkan masing-masing 10 koleksi baju Muslim. Mereka adalah Irna Mutiara, Dian Pelangi, Nuniek Mawardi, Monika Jufry, Anne Rufaidah, Hannie Hananto, Jenny Tjahyawati, Najua Yanti, Malik Moestaram, Nieta Hidayani, Merry Pramono, Boyonz Ilyas, dan Amy Atmanto.
Ketigabelas desainer tersebut akan memamerkan busana Muslim namun tetap mengusung budaya Indonesia. Mungkinkah mengeksplore batik atau kain etnik berbagai suku di Indonesia yang sangat eksotis? Entahlah, itu masih rahasia. Kita tunggu saja tanggal mainnya.
Yang pasti, umat Muslim menaruh harapan besar agar para desainer menyajikan karya-karya terbaiknya, guna memperkuat citra Islam sebagai agama damai yang tak lekang oleh zaman. Karya yang mampu mengubah opini dunia, bahwa perintah Islam untuk mengenakan pakaian takwa, bukanlah untuk mengekang aktivitas manusia, sebagaimana Barat memandang. Melainkan menjadi identitas dan ikon kehormatan diri.
Semoga karya yang diperagakan di panggung dunia itu merupakan desain yang mampu merobohkan pandangan bahwa jilbab dan kerudung adalah simbol ketertindasan pada perempuan. Juga, meluruskan penilaian bahwa berjilbab bukanlah teroris yang membahayakan eksistensi masyarakat sekitar.
Dengan begitu, busana Muslim, khususnya jilbab, diterima dunia. Tidak seperti sekarang, jilbab justru dilarang dimana-mana. Terutama di Barat, belakangan gerakan anti-jilbab semakin menguat. Bahkan, sudah menjadi aturan baku dalam undang-undang negara. Seperti di Turki, Belanda, Nigeria, Kosovo dan Amerika Serikat.
Bahkan Perancis sendiri, pada 2004 mengeluarkan UU anti-jilbab bagi pelajar dan mahasiswi di sekolah dan kampus. Alasannya, untuk menjaga kesekuleran negara Perancis. Kini, jika busana Muslim, khususnya busana Muslimah telah “diakui” dunia, maka tidak ada alasan lagi untuk melarang mengenakannya di manapun di bumi Allah ini.

BUSANA DAN PANDANGAN HIDUP
Busana bukan sekadar identitas kepribadian, sebagaimana kebanyakan penilaian orang. Busana sangat dipengaruhi pandangan hidup seseorang. Seorang Muslim akan mengenakan busana berpedoman pada ideologi Islam. Ketika Islam memerintahkan menutup aurat, maka itu yang dilakukan. Desain busananya pun longgar, menyembunyikan bentuk tubuh, tidak transparan atau ketat. Tak peduli dengan cuaca panas atau dingin, tak peduli musim, apakah summer atau winter. Busana universal yang wajib dikenakan sebagai bukti ketundukan seorang hamba.
Sangat berseberengan dengan mainstream fashion dunia ala Paris yang berpedoman pada ideologi sekuler. Dalam pandangan ini, busana harus pas badan, menonjolkan keindahan tubuh, mempercantik pemakainya dan menutupi bagian-bagian tubuh yang dianggap sebagai kekurangan. Tak peduli bahannya transparan, serba ketat, serba “kurang bahan” atau bahkan menggunakan bahan-bahan “aneh”, seperti busana dari daun atau daging. Bagi mereka, busana adalah simbol kepribadian. Busana mahal dan bermerek, yang mampu menambah kecantikan dan percaya diri pemakainya, itulah yang terbaik.

MENGGESER PARIS
Busana Muslim, khususnya jilbab dianggap ikon kebangkitan Islam. Makin banyak perempuan Muslim dunia tertarik mengenakannya. Dunia fashion mau tak mau harus mengakuinya sebagai bagian dari adikarya fenomenal. Penerimaan dunia atas busana “desain” abadi Allah SWT ini adalah suatu keniscayaan. Dunia tak akan mampu membendungnya.
Tentu, ini merupakan berkah bagi para desainer busana Muslim. Di tangan merekalah masa depan trend busana dipertaruhkan. Terlebih sudah banyak pengamat dan analisa politis yang menyebut-nyebut masa depan adalah milik Islam. Sudah diramalkan bahwa keruntuhan sekulerisme dan berganti dengan Islam tinggal menunggu waktu.
Seperti National Intelelligence Council's (NIC). Desember 2004 lalu, NIC merilis laporan berjudul Mapping The Global Future. Salah satu point penting laporan itu, berisi tentang gambaran nasib umat Islam di tahun 2020. Diprediksi, ada empat skenario besar dunia tahun 2020, dimana salah satunya adalah munculnya a new chaliphate atau berdirinya kembali khilafah Islam; sebuah pemerintahan Islam global yang mampu memberikan tantangan pada norma-norma dan nilai-nilai global. Agaknya, pentahbisan Indonesia sebagai kiblat fesyen busana Muslim sejalan dengan “ramalan” ini.
Bukan tidak mungkin, 20 tahun ke depan Jakarta akan menggeser Paris soal trend setter busana, seiring dengan lengsernya gaya hidup hedonis. Busana pamer aurat akan berganti dengan baju Muslim serba sopan.
Karena itu, inilah moment yang sangat tepat bagi para desainer busana Muslim untuk unjuk gigi, memperkenalkan trend busana masa depan sesungguhnya. Khususnya busana muslimah, para desainer hendaknya menciptakan model yang benar-benar memenuhi kaidah-kaidah Islam, yakni menutup aurat dan tidak mengeksploitasi kecantikan.
Ingat, para desainer ini membawa misi mulia, yakni mendakwahkan busana Islami. Jadi, keikutsertaan di panggung cat walk Paris bukan sekadar gagah-gagahan bahwa desainer busana Muslim Indonesia mampu menembus pusat mode dunia. Memang bukan pekerjaan mudah untuk meyakinkan dunia dengan karya busana yang benar-benar islami, tapi itulah yang seharusnya dilakukan.(*)

Jilbab alias gamis plus khimar syar'i yang alhamdulillah kini jadi trend dan dipakai banyak muslimah. (Foto by Abyan (6th). Location: Institut Pertanian Bogor)