Mematahkan Mitos di Jembatan Cinta, Ini Syaratnya
Oleh Asri Supatmiati
Founder Revowriter
“Cinta sejati membuat hari berlalu tanpa terasa dengan
cepat. Memandang jauh ke Jembatan Cinta, di mana kisah itu dimulai dalam
balutan rasa suka. Karunia cinta melengkapi perjalanan hati dan rasa.” Begitu
kutipan di prasasti berjudul Zona Kematangan Cinta di Pulau Tidung. Tampaknya
untuk menguatkan persepsi bahwa pantai dan hamparan laut adalah zona romantis
para pecinta. Tapi, ada mitos yang tak perlu dipercaya. Apa itu?
***
![]() |
| WELCOME: Gerbang Jembatan Cinta. Foto: Asri. |
Pantai adalah destinasi wisata yang tidak pernah bosan
dikunjungi. Apalagi untuk anak-anak kecil. Bisa puas bermain pasir dan air.
Terakhir kami ke pantai 2015. Sejak beruntun gempa dan tsunami, ada rasa
was-was mau melipir ke pantai. Alhamdulillah awal tahun ini, kami diberi rezeki
bisa kembali bermain pasir. Kali ini menuju Kepulauan Seribu.
Sehari sebelum berangkat, hujan tak berhenti mengguyur dari
pagi. Ada rasa was-was, bagaimana jika besok kondisi cuaca tidak membaik. Tapi,
malam itu kami tetap berkemas. Masing-masing membawa tiga stel baju. Satu koper
kecil baju saya dan anak perempuan. Satu tas ransel baju suami dan tiga anak
laki-laki. Hehe ... printilan cewek memang lebih banyak ya. Maklum. Tak
ketinggalan satu tas tenteng lagi berisi jajanan.
Hari itu, sebelum kokok ayam membangunkan bumi, kami sudah meluncur
ke Stasiun Bogor. Di sana bertemu rombongan keluarga lainnya. Kami lantas salat
subuh berjamaah di musala stasiun. Sambil menyeret koper, kami menuju
commuterline. Masih pagi, jadi semua dapat tempat duduk.
Sekitar 1,5 jam, sampailah kami di stasiun Jakarta Kota.
Selanjutnya menyewa taksi online menuju Pelabuhan Kali Adem. Biayanya tak
sampai Rp70 ribuan. Sebenarnya ada busway ke sana, tapi berhubung pagi dan
mengejar waktu, kami pilih yang praktis saja.
Pelabuhan ini adalah tempat berlabuh kapal tradisional. Di
sini, kita bisa membeli tiket penyeberangan ke pulau yang dituju. Tarif tiket
ke Pulau Pari Rp47 ribu. Pulau Pramuka Rp52 ribu. Pulau Tidung Rp52 ribu. Pulau
Harapan Rp62 ribu. Pulau Kelapa Rp62 ribu. Anehnya, loket pembelian tiket ini
hanya buka tak sampai dua jam. Kalau weekday, buka pukul 06.00-07.45 dan
weekend pukul 05.30-07.45.
![]() |
| TUTUP: Tempat beli tiket kapal tradisional. Foto: Asri. |
Berhubung kami rombongan, tiket sudah dikoordinir. Tujuan
kami ke Pulau Tidung. Ikut paket. Jadi, biaya sudah include tiket, biaya
penginapan plus fasilitasnya, makan malam, snorkeling, Banana Boat, dan bakar ikan.
Rata-rata paket liburan dua hari satu malam, antara Rp300 ribu hingga Rp650 ribu.
Kalau naik kapal ekpress, bisa lebih mahal, kisaran Rp480 ribu hingga Rp870
ribu.
Sekitar pukul 08.30, kami naik ke kapal tradisional. Jangan
bayangkan kapal ekspres nan mewah. Ini benar-benar kapal rakyat dengan interior
kayu sederhana. Di dek bawah, penumpang bisa duduk di deretan kursi-kursi. Kami
memilih naik di dek atas. Duduk santai di hamparan alas plastik tanpa kursi. Tempatnya
cukup lega. Di sini bisa selonjoran, bahkan rebahan.
Masing-masing penumpang
wajib mengenakan pelampung. Agak deg-degan juga, mengingat kemarin hujan
seharian. Angin dan ombak tergolong kencang. Padahal pelayaran ke Pulau Tidung
memakan waktu sedikitnya 2,5 jam.
Jam pertama pelayaran, kami baik-baik saja. Masih bisa
bercengkerama, bercanda sembari menikmati bekal sarapan. Sepotong pisang dan
snack ala kadarnya. Sesekali anak-anak silih berganti ke anjungan kapal untuk
melihat laut. Merasakan desir angin. Detik berikutnya, suara obrolan kian
sunyi. Muka-muka penuh harap akan kesenangan, mulai pias.
Guncangan kapal, memicu pusing dan mual. Satu persatu
penumpang kapal tumbang. Yang tadinya duduk, mulai merosot dan akhirnya
merebah. Ada yang rebah nikmat alias tidur nyenyak setelah perut terisi nasi.
Tapi lebih banyak yang menahan mual. Aku sendiri, hanya bisa memegangi perut
yang terkocok. Rebahan, tanpa berani bergerak. Matapun tak mampu terpejam. Pasrah.
Tak lama, anak kedua seperti mau muntah. Sudah siap-siap
kresek, tapi tidak jadi. Aku balurin saja pakai minyak kayu putih.
Alhamdulillah, drama tidak berlanjut. Walau sunyi, tampaknya semua rombongan
baik-baik saja. Tidak ada yang mengeluh.
Sekitar pukul 11.00 WIB, kapal akhirnya merapat di Pelabuhan
Pulau Tidung. Lega rasanya. Rombongan disambut seorang guide. Deretan sepeda
sudah menunggu. Siap membawa tamu ke penginapan. Aku, anak pertama dan kedua
mencari toilet dulu. Sudah tak tahan. Padahal ternyata penginapan tak jauh.
Tapi, ya sama saja, di penginapan juga nanti antre.
Dengan mengayuh sepeda, kami tiba di penginapan yang
menghadap laut. Sayangnya, halamannya bukan pantai, tapi karang. Jadi tidak
bisa untuk main air. Rombongan ibu-ibu ditempatkan di satu vila. Satu vila
lainnya untuk bapak-bapak. Di sini kami disambut es kelapa muda. Tak lama
keluar jatah makan siang.
SNORKELING HINGGA BANANA BOAT
Setelah duhur, barulah kami siap-siap melakukan aktivitas. Pertama,
kami akan snorkeling. Bersepeda dari penginapan menuju dermaga kecil di pantai,
kami harus naik perahu untuk menuju tengah laut. Jarak tempuh tak sampai 30
menit. Di laut berkedalaman sekitar 3-4 meter itulah, kami mengintip biota
laut. Ada terumbu karang dan ikan aneka jenis di sana.
![]() |
| SNORKELING: Melihat biota laut. Foto: Asri. |
Saya yang tidak pengalaman menyelam, tentu saja tidak bisa
berlama-lama. Repot pakai alat pernafasannya. Jadinya malah tidak dipakai. Asal
tahan nafas aja untuk menikmati pemandangan laut. Jadinya dua kali tertelan air.
Benar-benar asin dan mengganggu tenggorokan hehe ...
Usai aktivitas snorkeling, kembali naik perahu menuju ke
Pulau Tike. Singkatan dari Tidung Kecil.
Di sini anak-anak melihat penangkaran
penyu. Ember-ember raksasa berwarna biru, menampung masing-masing satu penyu
besar. Di ruangan sebelah ada aquarium-aquarium ikan laut. Semisal ikan Nemo
seperti di film kartun. Dari Pulau Tike, kami kembali ke pantai. Kali ini
bermain Banana Boat. Satu boat untuk 5 orang. Speedboad berkecepatan tinggi
mulai menarik boat. Lalu berbelok menukik. Akibatnya, penumpang terpental ke
dalam laut disertai teriakan. Seru.
MENGABADIKAN SUNSET
Tak mau buang waktu, kami kembali mengambil sepeda di tempat
parkir. Namun karena perut mulai lapar, di sepanjang jalan, membeli otak-otak
dan gorengan. Setelah mengganjal perut, kembali mengayuh sepeda menuju pantai
Tanjung Barat untuk menyambut sunset. Menyusuri jalanan konblok yang jaraknya
mencapai lebih dari satu kilometer.
Nah, di sini pantainya relatif sepi. Suasana juga cukup
tenang. Anak-anak bisa puas bermain
pasir. Kami yang dewasa melipir mengintip detik-detik sunset. Apalagi kalau
bukan untuk mengabadikannya. Tak ketinggalan foto-foto siluet. Sayangnya,
matahari lebih banyak tertutup awan, sehingga pemandangannya tidak terlalu spektakuler.
![]() |
| SUNSET: Foto siluet sambil menikmati sunset. Foto: Tata. |
Puas berpose, dan karena hari menjelang maghrib, segera kami
mengayuh sepeda menuju penginapan. Rombongan arak-arakan sepeda sempat
terpisah. Nyaris tersesat. Gara-gara tak tahu nama penginapannya apa, jalan
apa, jadi sewaktu bertanya-tanya juga sulit penduduk menjelaskan. Padahal
setelah nekat melanjutkan perjalanan, ternyata tinggal satu gang sudah sampai
penginapan. Pulau Tidung yang luasnya 50,53 hektare ini, memang sangat padat
penduduk. Sebenarnya tidak usah terlalu takut tersesat, pasti ketemu tujuan. Belakangan
saya baru tahu, ternyata, penginapan yang kami tempati memang tidak punya nama
hehe ...
Sampai penginapan, dengan baju penuh pasir, antrelah kami
untuk membersihkan diri. Kegiatan hari itu ditutup dengan barbeqiu. Bakar-bakar
ikan dan cumi sebagai cemilan malam. Ikannya besra-besar dan rasanya mantap.
Kenyang, kami bersiap untuk istirahat. Gerimis tipis-tipis mengantar kami ke
peraduan.
JEMBATAN CINTA
Hari kedua, awan terlihat gelap. Kami kembali keluar
bersepeda, menuju pantai. Kegiatan utamanya jalan-jalan ke Jembatan Cinta.
Entahlah, mengapa disebut begitu. Mitosnya, yang berhasil melewati Jembatan
Cinta, hubungan kekasih akan langgeng. Tentu saja ini tidak boleh dipercaya. Bagi
saya, yang benar adalah, di sini bisa pose-pose romantis hehe ...
![]() |
| PINK: Jembatan Cinta. Foto: Asri. |
Di sini kita akan menyusuri jembatan yang membentang di atas
laut, yang menghubungkan satu pulau ke pulau lainnya. Jembatan itu dipagari
besi penopang yang dicat pink. Ada satu tanjakan, plus berbelok dua kali untuk
menyusuri keseluruhan jembatan. Di puncak tanjakan, anak-anak pantai asyik
melompat ke laut yang tingginya mencapai lebih kurang 10 meter. Hebat sekali.
Berani.
Nah, di salah satu saung pemberhentian, tak jauh dari belokan
kedua, tertanam prasasti berjudul “Zona Kematangan Cinta”. Bunyinya: Cinta
sejati membuat hari berlalu tanpa terasa dengan cepat. Memandang jauh ke
Jembatan Cinta di mana kisah itu dimulai dalam balutan rasa suka. Karunia cinta
melengkapi perjalanan hati dan rasa.
Karena tidak berniat ke pulau sebelah, dan langit kian
gelap, kami berbalik arah. Kembali menyusuri Jembatan Cinta menuju pantai. Di
sana ada dua ayunan yang bersentuhan dengan air. Anak-anak harusnya bisa
kembali bermain basah-basahan. Masih ada baju ganti. Sayangnya, gerimis mulai
turun. Kami berhamburan kembali ke tempat parkir sepeda mengamankan diri. Gagal
deh, mau puas-puasin bermain pasir.
![]() |
| GERIMIS: Pose basah di ayunan. Foto: Tata. |
Setelah itu kami lebih banyak menunggu di penginapan,
sementara bapak-bapak salat Jumat. Rencana ingin berkeliling pulau untuk
mencari oleh-oleh alias belanja juga tidak kesampaian. Ya, tidak lengkap
jalan-jalan tanpa buah tangan. Sayangnya, di sini belum ada kawasan khusus
pusat oleh-oleh. Hanya warung atau toko-toko kecil yang tersebar di antara
rumah-rumah penduduk saja. Ada yang jual baju, kerajinan dari kerang dan ikan
asin. Itupun jumlahnya tidak banyak.
Nah, berhubung habis Jumatan kapal sudah menunggu, jadilah
membeli oleh-oleh seadanya di pelabuhan. Ikan asin, manisan rumput laut dan
kerupuk udang. Beruntung, sewaktu kembali ke Jakarta, perjalanan naik kapal
tidak sehoror saat berangkat. Laut tenang. Ombak stabil. Tidak ada yang mabuk
sampai di Pelabuhan Kali Adem.
Walhasil, yang terekam adalah liburan yang menyenangkan.
Kalau ada rezeki, mudah-mudahan bisa kembali lagi ke sini. Kalau bisa bersama
keluarga besar yang lain. Bukan karena percaya dengan mitos Jembatan Cinta,
tetapi bepergian bersama adalah salah satu cara mematangkan cinta dan
persaudaraan. Tentunya dengan satu syarat, seluruh anggota keluarga bisa
bersepeda hehe ... (*)
Bogor 30 Januari 2020
Keteguhan Istri Ditinggal Suami
Siyono
digelandang Densus 88 dalam keadaan hidup, lalu dipulangkan dalam
keadaan tak bernyawa. Tiba-tiba saja Suratmi, istrinya, harus
menanggung hidup 5 anak-anaknya. Maka, dua gepok uang bernilai Rp200
juta jelas sangat menggoda iman.
Namun
Suratmi sedikitpun tidak tergiur. Ia adalah sosok istri keluarga
Islam yang teguh dan loyal terhadap Allah SWT. Berbekal istikharah,
ia menolak mentah-mentah segala bujuk rayu agar meneken surat
pernyataan berisi: menerima kondisi jenazah suami; tidak akan
melakukan penuntutan pada Densus 88, tidak akan mengautopsi jenazah
suami, dan mnerima uang kerahiman.
Ia
lebih memilih tetap mencari keadilan atas kematian suaminya. Bahkan,
sekalipun intimidasi dan ancaman bertubi-tubi, tak menyurutkan
langkahnya. Saat tersiar rumors ia akan diusir dari kampungnya,
Suratmi berkata tegas “Bumi Allah itu luas. Saya siap tinggal di
manapun.”
Potret Miris Keluarga Metropolis
Siapa
yang tak kenal Marshanda. Ketika papanya ditangkap Dinas Sosial
beberapa waktu lalu, semua keheranan. Beruntung kini sang papa dan
anak sudah berkumpul kembali bersama keluarganya. Fakta miris itu
adalah bagian buruk dari potret keluarga metropolis masa kini.
Keluarga modern serba sibuk yang rentan tercerai berai.
Keluarga Ideologis Gemar Bersedekah
Selain
itu, ada juga yang meminta sumbangan untuk memperkaya diri. Bahkan
untuk kegiatan misionaris, jika umat muslim tidak kritis
mempertanyakan peruntukannya. Meski sedekah memang tidak perlu
diungkit-ungkit demi menjaga keikhlasannya, ada baiknya kita tahu
benar ke mana sedekah itu disalurkan, bukan?
Yang
jelas, prinsip sedekah adalah memberikan sebagian harta kita pada
mereka yang membutuhkan. Jika memberi pada orang yang mampu, itu
namanya hadiah. Tetapi, sedekah atau hadiah, dengan niat menyalurkan
sebagian rezeki kita, dua-duanya dianjurkan. Nah, orang-orang di
sekitar kita inilah yang bisa dijadikan prioritas dalam menyalurkan
sebagian harta kita:
Menyudahi Pengemis Abadi
Siapa yang tidak trenyuh melihat seorang ibu
lusuh menggendong bayi polos itu menadahkan tangan. Meminta belas
kasihan di perempatan lampu merah. Ibu-ibu pun segera iba dan
mengulurkan recehan. Ikhlas lillaahi ta'ala.
Tak ada yang menyangka, rumors bahwa mereka
adalah sindikat ternyata benar adanya. Penampilan memelas itu telah
menipu para dermawan. Menggendong bayi penarik simpati, padahal
hanyalah umpan. Bayi tak berdosa itu adalah korban eksploitasi.
Seperti diungkap Polres Metro Jakarta Selatan.
Sepasang kekasih, ER (17) dan S (18) ditangkap karena mengekploitasi
anak di bawah umur untuk menjadi pengemis. Satu bayi disewakan Rp200
ribu (Jawapos, 25/3/17).
Ironisnya, salah satu korban, bayi 6 bulan
bernama Bon-bon itu, diberi obat penenang Clonazepam agar tidak rewel
saat mengemis. Polisi juga menemukan 20 anak yang diduga menjadi
korban tindak kejahatan. Bahkan salah satu korban mengaku punya empat
saudara, dua diantaranya dijual ke luar kota, yaitu Klaten dan Malang
(Jawapos, idem).
Tips Belanja Sekaligus Peduli
Kebutuhan ibu rumah tangga yang tiada habis
setiap harinya, harus dicukupi dengan belanja. Saat ini uslub belanja
ibu-ibu sangat beragam, disebabkan berkembangnya jenis pasar. Nah,
berikut tips dan trik belanja sesuai lokasinya:
1. Pedagang Keliling
Ada yang dipikul, pakai gerobak dorongan,
sepeda pancal dan sepeda motor. Ada pemuda, ibu-ibu, hingga
kakek-kakek yang berjualan. Ada yang jual ubi, sayuran, buah-buahan,
perabot rumah tangga seperti sapu lidi, dll.
Mari cukupi kebutuhan rumah dari para pedagang
keliling ini. Jadikan langganan. Bilang supaya besok datang lagi.
Mereka adalah pekerja keras yang mencoba mengais rezeki setiap hari
dengan cara halal.
Kalau perlu, tidak perlu menawar. Atau jika
menawar, jangan sadis. Rupiah yang kita keluarkan sangat berarti bagi
berputarnya roda kehidupan mereka. Untuk menghidupi satu keluarga.
Jadi, ada misi kepedulian sosial di sana.
Vaksinasi Bikin Galau
Bumi bebas polio 2020. Begitu target yang
dicanangkan dunia, hingga di Indonesia 8-15 Maret lalu digeber Pekan
Imunisasi Nasional (PIN). Kehebohan kembali menghebat, khususnya di
kalangan keluarga muslim pengemban dakwah.
Ibu-ibu pemilik balita galau. Anak tak
divaksin, takut beneran terserang penyakit berbahaya itu. Mau
divaksin, juga takut malah berefek buruk. Maklum, di era keterbukaan
informasi ini, begitu banyak kabar-kabar tentang vaksin yang membuat
ibu-ibu pusing tujuh keliling. Maju mundur ambil sikap: yes or no.
Keluarga Muslim Ramah Lingkungan
Dunia
sedang menaruh perhatian besar pada masalah lingkungan. Di mana-mana
didengungkan green movement atau gerakan cinta lingkungan. Naif
memang. Di satu sisi kerakusan sistem kapitalis telah menghancurkan
lingkungan, di sisi lain menyeru masyarakat agar cinta lingkungan.
Namun,
tak ada salahnya jika kita melakukan upaya green living. Bahkan,
seharusnya warga muslim, keluarga ideologis, menjadi pelopor gaya
hidup green living. Sebab, Islam pun mengajarkan banyak hal yang pada
hakikatnya bentuk kepedulian pada lingkungan.
Jadi,
kalau kita menerapkan gaya hidup green living, bukan semata-mata
mengikuti trend global. Melainkan kesadaran akan ajaran Islam,
sekaligus menyelamatkan masa depan bumi. Jadi, keluarga muslim pun
harus menerapkan g green ini. Bagaimana
caranya? Tips berikut di antaranya:
Mengakhiri Karier Melambai
Huru-hara lesbian, gay, biseksual dan
transgender (LGBT) mencapai klimaks. Ini setelah tertangkapnya
pedangdut Saiful Jamil (SJ) yang diduga melakukan pelecehan seksual
pada remaja laki-laki. Ibu-ibu fans berat duda berpenampilian
religius itupun dibuat patah hati.
Sebelumnya, artis kondang lain berinisial IB,
juga dituduh melakukan pelecehan seksual, meski dibantah. Lalu
sebelumnya lagi, kopi maut Mirna sempat diwarnai isu lesbianisme.
Sejatinya, fakta-fakta di atas sudah menunjukkan dengan gamblang,
betapa buruknya perilaku dan dampak LGBT. Sangat naif jika masih
dibela.
Family Time Tanpa Gadget ala Rasul
Budaya
baru tengah terbentuk di era digital. Manusia tak lepas dari
smartphone. Belanja pulsa jadi kebutuhan pokok. Gesek-gesek gadget
jadi aktivitas harian. Obrolan pindah ke dalam genggaman. Gadget
telah menjadi alat perekat, sekaligus perenggang. Menjadi sahabat
karib, sekaligus musuh bagi keluarga modern.
Dianggap
sahabat, karena begitu dekat dan mendekatkan yang jauh. Dianggap
musuh, karena menjauhkan yang dekat, mengganggu interaksi dalam dunia
nyata. Ancaman itu terutama adalah menggerus family time dalam rumah
tangga. Maka muncul berbagai gerakan untuk mengambalikan family time
tanpa gangguan gadget. Ini perlu didukung. Seperti berikut ini:
Hijab Halal di Sistem Haram
Sebuah
papan reklame di pinggir jalan meremukkan hati para muslimah. Bukan,
bukan karena reklame itu roboh. Tapi kalimat menggusarkan ini: “Yakin
Hijab yang Kita Gunakan Halal?” Kewas-wasan pun menampar pikiran.
Benarkah hijab yang telah kita kenakan dengan segenap perasaan takwa
ini masih haram? Atau minimal subhat? Tidak cukupkah label hijab
syar'i dengan parameter panjang dan menutup tonjolan badan kita
kenakan? Berabad-abad lamanya hijab diperintahkan Kanjeng Nabi,
dikenakan turun temurun hingga menjadi fashion
item wajib para muslimah masa kini.
Kenapa baru sekarang tiba-tiba (perlu) ada labelisasi halal? Deradikalisasi atau Deliberalisasi yang Dibutuhkan Anak?
*
Musuh utama umat manusia adalah sekulerisme liberal, bukan agama.
"Perlu
ada tindakan & hukuman yg tegas buat pengelola akun @gaykids***
biar tdk menjadi pelopor akun2 yg merusak generasi penerus bangsa,"
kata akun @wahyu_wibi. "@gaykids*** anak2 weehh dpat pelajaran
darimana, astagfirullah. Benar2 kiamat sudh dekat," kata akun
@MisDoraemon (TribunnewsBogor,
27/1/16).
Demikianlah
kegeraman sebagian netizen (pengguna internet, red) melihat postingan
foto anak lelaki, serta timeline
menggunakan kalimat berbau seks dari
pemilik akun. Bagaimana tak marah, kebanyakan follower-nya
anak-anak usia SMP dan SMA. Sementara postingannya sungguh tak
senonoh. Termasuk ajakan penyimpangan seksual.
Ya,
satu lagi musuh orangtua yang mengancam putra-putrinya: LGBT.
Komunitas lesbian, gay, biseksual dan transgender itu kini menyasar
anak-anak bau kencur. Setelah masuk kampus, kelainan seksual itu kini
menyasar anak usia labil, SMP dan SMA. Bahkan tidak ada jaminan kalau
anak SD belum terinveksi penyakit liberal itu. Mengingat ada pula
akun sejenis bernama gaysmp dan gaysma.
Tampaknya
kerusakan mental dan moral anak-anak di negeri ini sudah (hampir)
mencapai titik klimaks. Pacaran sudah merajalela, seks bebas bukan
barang langka, perzinahan menggila, dan kini penyimpangan seksual
menggejala. Kurang rusak apalagi?
Cinta Guru Kunci Keberkahan Ilmu
Hubungan guru dan murid seharusnya sangat
dekat, dalam artian saling mencintai karena Allah SWT. Murid hormat
dan sayang pada guru. Guru mencintai murid sebagai amanah. Murid yang
berakhlak buruk pada gurunya tidak akan berkah ilmunya. Bisa jadi ia
tidak dapat mengamalkan ilmunya, atau tidak dapat menyebarkannya.
Orangtua wajib menanamkan kecintaan pada guru
terhadap anak. Agar anak senantiasa taat dan patuh pada guru di
sekolah. Di sisi lain, orangtua juga harus menghormati dan mencintai
guru-guru anaknya karena Allah SWT.
Bagaimanapun, para guru besar kontribusinya
bagi perkembangan kecerdasan dan kepribadian anak-anaknya. Bukankah
sebagian besar waktu anak justru lebih banyak dihabiskan di sekolah
dalam rangka menimba ilmu dibanding di rumah? Lantas bagaimana
menumbuhkan kecintaan terhadap guru?
Kriminalisasi Guru vs Hak Anak
Para pendidik sedang diuji kesabarannya.
Pasalnya, Undang-undang Perlindungan Anak (UU PA) bisa menjadi
ancaman kriminalisasi para guru. Seperti tragedi “saling gundul”
di Majalengka, Jabar, yang menjadi kisah panjang sejak 2013 lalu.
Ceritanya, 19 Maret 2013 lalu, seorang guru SD
Penjalin Kidul V, Aop Saopudin (31) menggunting rambut siswa yang
gondrong. Rupanya Iwan, orangtua sang bocah, tak terima. Aop dipukuli
dan digunduli. Didukung para guru di PGRI Kab. Majalengka, Aop lalu
lapor polisi.
Iwan lapor balik atas tindakan Aop menggunduli
anaknya. Di pengadilan, jakwa mendakwa Aop dengan 3 pasal yaitu: (1).
Pasal 77 huruf a UU PA tentang perbuatan diskriminasi terhadap anak;
(2). Pasal 80 ayat 1 UU PA tentang tindak kekerasan; (3). Pasal 335
ayat 1 kesatu KUHP tentang Perbuatan Tidak Menyenangkan.
Merindukan Mu'tashim Billah Abad Ini
Sistem
sekuler kapitalisme saat ini, tidak bisa diharapkan mampu melindungi
perempuan, kaum ibu dan anak-anak. Justru, sistem inilah yang
memproduksi berbagai kejahatan dan kerusakan dengan ibu dan anak
sebagai korban. Maka, tidak ada alasan untuk terus mempertahankan
eksistensi sekulerisme dengan paham demokrasi dan liberalismenya.
Air Mata Ibu Demi Perisai Hakiki
“Ya
Allah, kami berjanji kepadamu, bahwa kami akan menjadi penjaga Islam
yang terpercaya, kami akan bersungguh-sungguh dan berjuang sekuat
tenaga, untuk menegakkan Khilafah rasyidah, yang sesuai manhaj
kenabian. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!”
Gema
takbir menggetarkan jiwa. Merinding. Menyeruakkan keharuan. Lelehan
air mata para muslimah pun tak tertahankan. Membuncahkan kerinduan
yang mendalam atas kehadiran Khilafah. Kerinduan kaum muslimah yang
teraniaya oleh sistem sekuler kapitalis. Muslimah yang terlantar
tanpa perisai sebagai tameng penjaga kehormatan mereka.
Demikianlah
puncak Kongres Ibu Nusantara (KIN) ke 3, menutup agenda akbar
Muslimah Hizbut Tahrir (MHTI) tahun ini. Gedung Balai Sudirman,
Jakarta, Sabtu (26/12/2015), menjadi saksi sejarah atas tekad 3.000
muslimah untuk mendukung tegaknya Khilafah. Di antaranya hadir tokoh
PP Aisiyah Noorni Akma dan tokoh Alisha Khadijah ICMI, Nani Zakariya.
Menumbuhkan Sikap Pemberani
Pekan
lalu berita tak sedap lagi-lagi mencuat. Bocah 6 tahun berinisial IA
datang sendiri ke Polsek Semampir untuk malaporkan penganiayaan
dirinya. Pelakunya tak lain ayah kandung dan ibu tirinya.
Penyebabnya, IA tak kunjung pulang saat bertandang ke rumah ibu
kandungnya. Akhirnya dijemput ayah dan disiksa (radarsurbaya,
12/12/15).
Hebatnya,
bocah warga Wonokusumo VI Surabaya itu tak menangis saat menceritakan
kronologinya. Tindakan IA pun sontak banjir pujian dan dukungan.
Ketua Komnas Perlindungan Anak (PA) Arist Merdeka Sirait
mengapresiasi keberanian IA.
Kejadian
ini menambah fakta, betapa rusaknya mental manusia saat ini. Apalagi
keluarga broken home.
Anak yang lemah, lagi-lagi menjadi korban. Di sisi lain, menjadi
inspirasi, bagaimana mengajarkan keberanian pada diri anak-anak.
Berani menghadapi orang lain. Berani membela haknya. Berani
menegakkan kebenaran.
Merindukan Perisai bagi Ibu dan Anak
Desember
tahun 2015 ini adalah peringatan Hari Ibu ke 87. Kali ini mengusung tema
"Kesetaraan Perempuan dan Laki-laki dalam Mewujudkan Lingkungan
yang Kondusif untuk Perlindungan Perempuan dan Anak".
Ya, saat ini keselamatan ibu
dan anak tidak terjamin. Ada ancaman besar yang mengintai. Paling
mengerikan adalah ancaman kekerasan seksual. Saat ini angka
pemerkosaan ibu dan anak sangat tinggi. Komnas Perempuan mencatat,
dalam kurun 1998–2010, kasus kekerasan mencapai 400.939.
Seperempatnya atau 93.960 kasus merupakan kekerasan seksual. Artinya,
setiap hari rata-rata ada 20 (19,80) perempuan diperkosa
(kompasiana.com)
Sedangkan
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebut, jumlah kekerasan
seksual anak pada 2010 sebanyak 171 kasus, 2011 meningkat drastis
jadi 2.178 kasus, 2012 ada 3.512 kasus, 2013 sebesar 4.311 kasus, dan
2014 sebanyak 5.066 kasus. Tahun ini, hingga Agustus 2015, terdapat
6.006 kasus. Melihat
data miris ini, apa solusi negara?
Agar Remaja Islam Kafah
Saat
ini gagasan sekulerisme dan liberalisme berikut cabang-cabangnya
semakin merajalela. Mulai ide dasar tentang hak asasi manusia, Islam
moderat, hingga isu LGBT. Anak-anak usia tanggung, remaja menuju
dewasa biasanya mudah terbawa opini umum di masyarakat. Bahkan yang
sudah mahasiswapun, bisa terpengaruh.
Orangtua
perlu memantau perkembangan anak-anak remajanya dari ajaran-ajaran
sekuler yang menyesatkan tersebut. Terlebih jika anak sudah mulai
tinggal terpisah dari orangtua. Kos atau boarding di luar kota, tak
bisa tiap hari interaksi dengan orangtua. Penting untuk memastikan
anak-anak tetap on the track dalam Islam. Tetap Islam kafah. Misalnya
dengan memperhatikan hal-hal berikut:
Subscribe to:
Posts (Atom)



















