Berkedok edukasi
seksual remaja, buku “Saatnya Aku Belajar Pacaran” ramai dikecam.
Gimana nggak, banyak ajaran vulgar yang mengarahkan pada seks di luar
nikah. Hadeuh, kok bisa kecolongan ya?
D'Riser, sebaiknya
hati-hati kalau baca buku. Jangan asal pilih, jangan asal telan
mentah-mentah dan menjadikannya sebagai referensi. Nggak sedikit isi
buku yang menyesatkan pembacanya kalo nggak punya filter.
Contohnya buku “Saatnya
Aku Belajar Pacaran” karya Toge Aprilianto. Buku berkedok psikologi
remaja itu memuat bab tentang pedekate, pesaing, temen, hobi, orang
tua, seks, patah hati dan mantan pacar. Dari judulnya aja udah
kebayang gimana isinya: ngajak maksiat.
Buktinya, banyak banget
kalimat vulgar dan cabul. Itu bisa terlihat di halaman 21, 60, 63,
dan 66. Ada kalimat yang ditulis Toge seperti ini, "Aku pernah
ngeseks sama dia." Lalu, halaman 60 memuat subjudul pacar ngajak
ML (making love). Toge menuliskan, "Sebetulnya wajar, kok, kalau
pacar ngajak kamu ML. Wajar juga kalau kamu ngajak pacarmu ML. Itu
hal naluriah alamiah." (tempo.co, 7/2/15).
Astaghfirullah,
benar-benar menyesatkan.
Pantas saja kalo kian
hari kian menggunung korban-korban pacaran, yakni hamil di luar
nikah. Jangan-jangan sebagian remaja itu belajar dari buku semacam
ini. Pasalnya, buku kontroversial itu sudah terbit 2010 lalu alias
lima tahun lalu. Bayangkan, rentang waktu itu, berapa banyak pembaca
buku yang teracuni pemahaman tentang seks bebas. Akhirnya banyak yang
beranggapan bahwa “remaja itu harus pacaran. Pacaran itu wajar seks
bebas.” Na'uzubillahi minzalik.
ADA IDEOLOGI DI
BALIK BUKU
Buku sama aja dengan
produk lain yang juga nggak bebas nilai, seperti komik, musik dan
film. Ada filosofi atau pemahaman tertentu yang ditanamkan di sana.
Pemahaman seperti apa, ya tergantung ideologi penulisnya.
Semestinya, jika dia
penulis muslim, maka bukunya berisi nilai-nilai Islam. Sebab jelas,
nilai-nilai yang tidak islami haram untuk ditulis. Bertolak belakang
dengan penulis nonmuslim, atau muslim tapi muslim KTP yang nggak mau
ngaji. Jadinya ya nggak ngerti tsaqofah Islam.
Terlebih lagi kalo yang
nulis itu pengemban ideologi kapitalisme-sekuler. Udah pasti, isi
bukunya bakalan mengarahkan pembacanya untuk menyetujui gaya hidup
sekuler. Contohnya buku yang menggeber tips-tips pacaran tadi.
Padahal jelas-jelas pacaran tidak ada dalam kazanah dunia Islam.
Makanya, kamu-kamu
musti punya filter untuk menyaring dan memilah buku mana yang baik,
berkualitas dan tidak menyesatkan. Jangan sampai tersesat dan terbawa
arus karena meyakini bulat-bulat isi buku tersebut..Ingatlah, ada
pepatah yang cukup masyur yang konon dikeluarkan oleh ulama, bahwa
“barangsiapa membaca buku tanpa guru maka gurunya adalah setan.”
Yup, bener banget!
Membaca buku sendirian itu bisa menyesatkan. Masih ingat kasus
seorang remaja di Jakarta, Rangga (14) yang bunuh diri? Konon ia
terinspirasi dari komik-komik Jepang yang di antaranya mengandung
pemahaman bahwa “mati itu akan membawa pada kedamaian.” Phiuhh,
bahaya banget, kan!
Lantas, apakah kita musti berhenti membaca buku
karena takut disesatkan setan? Well, nggak gitu juga. Di antara
jutaan buku yang beredar, karya-karya buku yang bagus dan bermutu,
sarat ilmu dan manfaat juga banyak kok. Banyak jauh lebih banyak yang
mengajak pada kebaikan dibanding pada kemaksiatan. Kuncinya: selektif
pilih bacaan.
FILTER DIRI
Buku adalah jendela
ilmu. Demikian pepatah bijak menyebutkan, betapa bergunanya
keberadaan sebuah buku. Banyak ilmu dan inspirasi yang bisa kita
dapatkan dari membaca buku. Sayangnya, kegiatan positif ini mulai
ditinggalkan kebanyakan remaja. Saat ini, mereka lebih suka browsing
di internet dan chatting di media sosial.
Padahal, internet tak
kalah bahayanya jika tidak memiliki filter diri. Ya, membaca apapun
baik buku atau internet, bahkan mendengarkan musik atau nonton film,
ada risikonya. Risiko teracuni pemahaman menyesatkan dan bertentangan
dengan Islam.
Makanya, seorang muslim
musti punya filter yang kokoh untuk menangkal paham-paham sesat yang
meresap dan menjalar lewat berbagai media tersebut: buku, komik,
majalah, musik dan film. Jadi, harus punya pemahaman Islam yang
mantap supaya ketika membaca media tersebut akal mampu menimbang
benar dan salahnya.
Contohnya, ketika
mencermati buku “Saatnya Aku Belajar Pacaran” tadi. Bagi yang
nggak paham Islam, buku ini bisa menjadi referensi penting untuk
melanggengkan aktivitas pacaran. Sebaliknya bagi remaja muslim yang
paham Islam, udah pasti nggak bakal tertarik sama sekali buat membeli
atau membaca buku itu. Judulnya aja udah nggak sesuai dengan ajaran
Islam.
Pasalnya, Islam
mengharamkan pacaran. Sudah tahu kan, pacaran itu definisinya khas,
yakni sepasang muda-mudi yang komitmen menjalin hubungan intim dengan
didominasi aktivitas berdua-duaan (kholwat). Nah, ini kan mengajarkan
maksiat. Makanya, buku itu memang pantas untuk dikecam.
NASIHAT UNTUK
PENULIS
Penulis buku “Saatnya
Aku Belajar Pacaran,” Toge Aprilianto akhirnya minta maaf telah
membuat keresahan dengan buku karyanya. Ia mengaku khilaf dengan buku
tersebut. Aneh ya, masa khilaf kok dalam bentuk sebuah buku?
Menulis buku itu butuh
keseriusan dan kesungguhan. Semua dilakukan dengan penuh
kesadaran.Rangkaian kalimat demi kalimat dibuat dengan penuh
perhatian. Mustahil jika menulis buku itu adalah sebuah kelalaian.
Ada pertanggungjawaban dunia akhirat dalam setiap kata-katanya.
Makanya, jangan asal menulis buku.
Termasuk kamu-kamu, D'Riser yang
hobi atau bercita-cita jadi penulis. Menulislah yang positif,
membangun dan inspiratif. Masih banyak ide bagus untuk dituangkan
dalam tulisan, dibanding mengajari anak-anak untuk pacaran. Apalagi
jika menulis buku berisi ajakan kebaikan, menjelaskan tentang
pemahaman Islam, inshaa Allah akan menjadi ladang pahala yang tak ada
putusnya.
Nah, untuk menulis buku
inipun dibutuhkan ilmu yang mumpuni, pemahaman yang mendetail dan
jika perlu dalil-dalil yang kuat. Karya seperti ini akan bernilai
manfaat bagi umat. So, jangan asal nulis buku. Apalagi jika motifnya
semata-mata untuk mencari materi: biar laris, best seller dan
royaltipun mengalir deras ke rekening.
Sungguh rendah jika
menulis buku hanya bermotif uang. Apalagi jika menghalalkan segala
cara dengan sengaja membuat buku yang kontroversial supaya laris.
Ingatlah, apapun yang kita tulis akan dimintai pertanggungjawaban.(*)
* Ditayangkan di Majalah Remaja D'Rise edisi Maret 2015

No comments:
Post a Comment